Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Prof. Didik J. Rachbini: Disiplin Fiskal dan Meredanya Tekanan Global Perkuat Ekonomi RI

Prof. Didik: Disiplin Fiskal dan Meredanya Tekanan Global Perkuat Ekonomi RI
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Foto: JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., menilai disiplin fiskal yang terjaga dan meredanya tekanan global menjadi dua faktor utama yang mendorong perbaikan ekonomi Indonesia belakangan ini. Penguatan rupiah dan pulihnya pasar saham ia sebut sebagai cerminan nyata dari membaiknya sentimen pasar.

Dampaknya terasa langsung. Kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional mulai pulih, dan ruang gerak pemerintah dalam mengelola anggaran dinilai masih cukup aman untuk sisa tahun ini.

Harga Minyak Turun, Tekanan Global Mereda

Dari sisi eksternal, Prof. Didik menyoroti penurunan harga minyak dunia sebagai angin segar. Ia mengaitkan tren ini dengan meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, khususnya perkembangan positif hubungan Amerika Serikat dan Iran.

“Ada berita baik harga minyak Brent terus menurun. Harga minyak pada puncak krisis perang mencapai 120 dollar AS per barrel dan kini sudah turun lagi sekitar 4 persen menjadi 80 dollar AS per barrel,” kata Prof. Didik.

Penurunan itu membuka peluang normalisasi perdagangan energi global, termasuk di Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi titik rawan gangguan pasokan. Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, ini berarti tekanan terhadap neraca perdagangan dan APBN berkurang signifikan.

Defisit Masih Aman di 0,7 Persen PDB

Dari sisi dalam negeri, Prof. Didik menilai kondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan 2026 masih relatif sehat. Defisit fiskal per Mei 2026 tercatat di kisaran 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto, jauh di bawah batas maksimal 3 persen yang diamanatkan undang-undang.

“Jika saya lihat dari laporan yang ada, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai, terutama dalam defisit yang terjadi sampai tengah tahun sekarang ini,” ujarnya.

Penerimaan negara turut mencatatkan lonjakan. Hingga Mei 2026, total penerimaan mencapai Rp1.185 triliun atau naik sekitar 19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Prof. Didik menunjuk implementasi sistem Coretax sebagai salah satu penyebabnya.

“Saya kira ini ada faktor sukses Coretax, yang berperan dalam hal ini,” katanya.

Lonjakan penerimaan terutama ditopang oleh Pajak Pertambahan Nilai yang tumbuh 41 persen secara tahunan, ditambah pertumbuhan dari sektor perdagangan, pertambangan, dan manufaktur.

Belanja Sosial Melonjak, MBG Diefisienkan

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda