Di sisi belanja, pemerintah mencatat kenaikan tajam pada beberapa pos. Belanja ketahanan pangan naik 76 persen secara tahunan mencakup subsidi pupuk, dukungan petani, dan penguatan cadangan pangan nasional melalui BULOG. Belanja subsidi dan kompensasi melonjak lebih drastis, hingga 208 persen secara tahunan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyumbang realisasi Rp86,6 triliun sepanjang hampir satu semester pertama 2026. Namun, Prof. Didik mencatat pemerintah sudah memangkas alokasi anggaran MBG menjadi sekitar Rp268 triliun dan berencana melakukan efisiensi lebih lanjut dengan memfokuskan pelaksanaan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Karena itu, ia memperkirakan realisasi MBG pada semester kedua tidak akan meningkat signifikan.
Pajak Harus Diiringi Demokrasi yang Sehat
Prof. Didik menekankan satu hal yang kerap luput dari diskusi fiskal: kualitas demokrasi. Menurutnya, sistem perpajakan yang kuat tidak bisa berdiri sendiri tanpa tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
“Rakyat membayar pajak dalam jumlah sangat besar kepada negara, yang harus diikuti oleh perwujudan demokrasi secara substansial. Hampir semua negara yang sistem pajaknya baik, sistem demokrasinya juga baik,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa perbaikan administrasi perpajakan saja tidak cukup bila tidak disertai kepercayaan publik terhadap penggunaan uang negara.
Konsistensi Kebijakan Kunci Pulihkan Kepercayaan Pasar
Secara keseluruhan, Prof. Didik optimistis kepercayaan pasar akan terus membaik dengan syarat pemerintah menjaga konsistensi kebijakan dan memperkuat komunikasi publik. Ia mengingatkan pesan lama yang pernah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal pentingnya disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan.
“Jika pasar melihat konsistensi kebijakan, tata kelola fiskal dan pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih,” pungkasnya.
“Jadi, dengan data-data faktual ini menurut saya kebijakan fiskal masih bisa dijaga dengan disiplin yang lebih baik,” tambahnya.
Bagi Prof. Didik, kombinasi antara membaiknya kondisi eksternal, disiplin fiskal yang terjaga, dan konsistensi kebijakan ekonomi adalah fondasi penting bagi penguatan rupiah, stabilitas pasar modal, dan keberlanjutan pertumbuhan Indonesia ke depan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.