Verstappen sudah mencicipi tekanan sebagai pembalap utama dengan kalender balap yang super padat. Jika ia nekat membawa timnya ke F1, ia khawatir akan terjebak lagi dalam rutinitas melelahkan yang saat ini sudah ia jalani. Baginya, hidup bukan cuma tentang putaran mesin dan catatan waktu di sirkuit.
“Tidak… itu terlalu berat,” tegasnya saat ditanya kemungkinan merambah F1 sebagai pemilik tim. Baginya, komitmen 24 balapan dalam setahun adalah beban yang tidak ingin ia tambahkan di masa depan. Ia menolak berada di posisi di mana ia harus terus-menerus bepergian atau memikirkan manajemen tim yang menyita seluruh waktunya.
Mungkin banyak orang menganggap ia bisa menyerahkan urusan operasional kepada orang lain atau pihak ketiga. Namun, Verstappen tampaknya tidak tertarik menempatkan diri dalam pusaran tekanan kompetisi F1 sebagai bos tim. Ia lebih memilih menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik dan tekanan manajemen tim jet darat.
Sikap ini mencerminkan keinginan kuatnya untuk mengendalikan keseimbangan hidup. Verstappen sadar betul bahwa membangun warisan di dunia otomotif tidak harus selalu lewat Formula 1. Dengan tetap berfokus pada balap ketahanan, ia ingin menikmati masa setelah pensiun dengan ritme yang lebih terkendali, jauh dari stres berkepanjangan yang melekat pada kasta tertinggi balap mobil dunia.
Kini, perhatian tertuju pada bagaimana ia akan mendongkrak performa timnya di sirkuit-sirkuit ketahanan tahun depan. Keputusan ini menunjukkan bahwa meski ia adalah pembalap yang haus akan kemenangan, ia juga pria yang sangat menghargai privasi dan waktu luang untuk kehidupannya sendiri di masa depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.