JAKARTA — PT MRT Jakarta sedang gencar mencari sumber uang baru di luar penjualan tiket. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada subsidi pemerintah dan membuat perusahaan lebih mandiri secara finansial.
Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, Kepala Divisi Property Management PT MRT Jakarta, menjelaskan strategi ini saat MRTJ Fellowship Program berlangsung di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurutnya, pendapatan MRT saat ini terbagi dari tiga sumber: penjualan tiket (farebox), subsidi pemerintah, dan pendapatan non-farebox.
“Kalau dari ticketing porsinya MRT Jakarta itu ada subsidi, ada farebox, dan non-farebox. Nah, itu memang hampir sama pembaginya,” kata Bimo.
Sekarang, fokus perusahaan adalah membesar-besarkan porsi non-farebox. “Jadi, tetap kita harapannya adalah non-farebox-nya ini akan terus berkembang dan akan menjadi tulang punggung MRT Jakarta, bahkan bisa jadi mengurangi subsidi ke depan,” ujarnya.
Monetisasi Aset Stasiun dan Sekitarnya
Strategi MRT Jakarta tidak hanya fokus pada ruang di dalam stasiun. Perusahaan juga mengembangkan potensi aset di kawasan sekitar stasiun melalui konsep Transit Oriented Development atau TOD.
Bimo mengatakan pendekatan ini diperlukan karena jika hanya mengandalkan stasiun, “kita kan sudah takar, gitu ya. Satu stasiun akan mendapatkan non-farebox berapa.” Dengan meluaskan jangkauan ke area luar stasiun, MRT bisa membuka peluang pendapatan yang lebih besar dan lebih beragam.
“Nah, usaha itu yang kita akan kembangkan akhirnya di luar stasiun sehingga tidak hanya aset stasiun yang bisa kita monetize, tapi juga aset luar stasiun,” jelasnya.
Aset yang bisa dimonetisasi sangat beragam: mulai dari tempat usaha di dalam stasiun, iklan, hingga pengembangan properti dan komersial di sekitar stasiun.
Blok M, Dukuh Atas, dan Lebak Bulus Jadi Pilot
Kawasan Blok M menjadi salah satu lokasi yang sudah mulai dikembangkan MRT Jakarta dengan konsep TOD. Pengembangan lebih lanjut juga diarahkan ke Dukuh Atas dan Lebak Bulus.
Dengan konsep ini, area sekitar stasiun akan dibangun menjadi kompleks campuran yang menggabungkan transportasi, hunian, perkantoran, dan ritel. Tujuannya menciptakan ekosistem yang saling mendukung: lebih banyak pengguna di area tersebut, lebih banyak potensi pendapatan dari berbagai sumber.
Strategi ini sejalan dengan tren global di mana operator transportasi massal tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan dari tiket, tetapi juga mengembangkan bisnis properti dan komersial sekitar halte atau stasiun mereka.
Bagi pengguna MRT dan masyarakat Jakarta, upaya ini bermakna: jika MRT bisa mandiri dari subsidi, anggaran pemerintah bisa dialokasikan ke sektor lain, sementara layanan MRT sendiri bisa terus ditingkatkan. Namun, pengembangan TOD juga harus memastikan bahwa tarif tiket tetap terjangkau bagi pengguna reguler dan tidak ada kenaikan drastis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.