JAKARTA — PT MRT Jakarta sedang menggeser cara pandang bisnis. Bukan lagi sekadar menyewakan ruang usaha di stasiun, melainkan mengubah seluruh kawasan stasiun menjadi mesin penghasil ekonomi melalui strategi transit-oriented development (TOD).
Langkah ini sederhana namun fundamental: perbesar pendapatan non-tiket agar bisa mengurangi ketergantungan terhadap subsidi dan pendapatan dari tarif penumpang.
“Harapannya adalah non-farebox ini akan terus berkembang dan akan menjadi tulang punggung MRT Jakarta, bahkan bisa jadi mengurangi subsidi ke depannya,” ujar M. Iqbal Bimo Arifianto, Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta, saat diwawancarai Kamis (24/9/2026).
Saat ini, kontribusi pendapatan non-tiket MRT Jakarta berada di kisaran 30% dan terus ditargetkan untuk meningkat. Untuk konteks: sepanjang 2025, MRT Jakarta membukukan pendapatan total sekitar Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan 7% secara tahunan. Angka itu mungkin terlihat solid, namun perlu diingat bahwa total aset perseroan mencapai sekitar Rp32 triliun.
Aset Besar, Potensi Terbatas
Masalahnya jelas: ruang komersialisasi di stasiun sendiri memiliki batas fisik dan kapasitas. Satu stasiun hanya punya ukuran tertentu. Karenanya MRT Jakarta mulai melirik aset di luar stasiun—atau lebih tepatnya, mengubah keseluruhan kawasan sekitar stasiun menjadi hub ekonomi.
“Tidak hanya aset stasiun yang bisa kita monetisasi, tetapi juga aset luar stasiun,” kata Bimo.
Pendekatan ini berbeda dari komersialisasi konvensional. Di tahap awal, MRT Jakarta prioritaskan pembentukan kawasan terlebih dahulu—biarkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat tumbuh—baru kemudian kembangkan potensi komersial secara bertahap. Ini bukan keputusan altruistik, melainkan kalkulus bisnis jangka panjang: kawasan yang hidup akan memiliki nilai komersial lebih tinggi.
Blok M Hub: Dari Sepi jadi Ramai
Contoh paling nyata adalah Blok M Hub. Dikembangkan dengan karakter lifestyle, komersial, dan komunitas, area ini berhasil ditransformasi. Dalam 100 hari aktivasi pertama, Blok M Hub mencatat 242 tenant UMKM lokal dan menarik lebih dari 25.000 pengunjung per hari pada 2026. Gojek juga melakukan naming rights di kawasan ini.
Bimo menekankan bahwa kesuksesan Blok M bukan hanya soal perbaikan fisik. “Dulu di underground Blok M tidak ada apa-apa. Bagaimana kita mengembalikan masa jaya seperti dahulu. Bukan hanya memastikan fasilitas berfungsi, tapi juga aktivasi, tenant, komunitas dan engagement,” jelasnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.