Papan skor di Stadion Philips berkedip 2-2 saat peluit panjang dibunyikan. Pendukung PSV Eindhoven terdiam, sementara kubu Fortuna Sittard merayakan satu poin yang terasa seperti kemenangan besar. Hari itu, Minggu (9/8/2026), Stadion Philips bukan lagi rumah yang angker bagi tim tamu.
Ada campur tangan dua pemain berdarah Indonesia yang memporak-porandakan skenario juara bertahan Liga Belanda tersebut.
Ole Romeny menjadi lakon utama dalam drama di Eindhoven. Baru saja menjalani debut bersama Fortuna Sittard, ia tak butuh waktu lama untuk memikat mata publik. Hanya sepuluh menit setelah laga dimulai, Romeny sudah menghukum tuan rumah. Sebuah operan balik dari bek PSV, Ryan Flamingo, terlalu lemah.
Romeny sigap menyambar bola, berlari tenang ke kotak penalti, lalu melepas tembakan presisi yang membuat kiper Matej Kovar mati langkah. Gol. Fortuna unggul 1-0.
Pertahanan Baja Justin Hubner
Bukan cuma lini depan yang menjadi sorotan. Di area pertahanan, Justin Hubner berdiri kokoh bak tembok. Ia dipercaya tampil sejak menit pertama dan bermain penuh selama 90 menit tanpa henti. Menghadapi gempuran bertubi-tubi dari barisan penyerang PSV bukanlah tugas mudah. Namun, Hubner berkali-kali mematahkan alur serangan lawan dengan tekel bersih dan penempatan posisi yang cerdik.
Kehadiran Romeny dan Hubner di lapangan memberikan warna baru bagi permainan Fortuna. Mereka tidak bermain seperti pemain debutan yang demam panggung. Sebaliknya, keduanya tampak sangat menikmati tekanan di markas besar PSV. Pelatih Fortuna Sittard memutar otak, memaksimalkan ketenangan Hubner di belakang untuk meredam kecepatan pemain sayap lawan.
Drama Menit Akhir
Memasuki babak kedua, tensi laga meningkat drastis. PSV yang enggan dipermalukan di hadapan pendukungnya sendiri langsung tancap gas. Ryan Flamingo, yang merasa bersalah atas gol pembuka Romeny, membayar lunas kesalahannya pada menit ke-55. Ia melompat tinggi menyambut sepak pojok kiriman Ivan Perisic dan menanduk bola ke dalam gawang. Skor menjadi sama kuat, 1-1.
PSV tidak berhenti di situ. Mereka terus membombardir pertahanan tim tamu. Usaha tuan rumah membuahkan hasil manis pada menit ke-79. Noah Fernandez keluar sebagai pembeda setelah sukses mencungkil bola melewati jangkauan kiper Mattijs Branderhorst dalam skema serangan balik yang mematikan. Stadion Philips bergemuruh. PSV memimpin 2-1 dan kemenangan di depan mata.
Namun, sepak bola selalu punya cara untuk menghadirkan kejutan. Memasuki masa injury time, Fortuna Sittard tidak melempar handuk. Saat PSV mulai mengendurkan fokus, Edouard Michut melihat celah. Dari luar kotak penalti, ia melepaskan sepakan geledek yang meluncur deras ke pojok gawang. Kovar tak mampu menjangkaunya. Gol dramatis pada menit ke-92 itu memaksa laga berakhir dengan skor imbang 2-2.
Hasil ini jelas menjadi pukulan bagi PSV, tapi sebuah pencapaian luar biasa bagi Fortuna. Mencuri satu poin dari kandang juara bertahan adalah bukti nyata ketangguhan mental skuad asuhan Fortuna Sittard. Publik Indonesia pun punya alasan untuk berbangga.
Penampilan solid selama 90 menit penuh di kompetisi sekaliber Eredivisie menjadi sinyal kuat bahwa kualitas Romeny dan Hubner sudah diakui di level Eropa.
Bagi tim nasional Indonesia, tentu ini menjadi kabar baik. Memiliki pemain yang terbiasa menghadapi intensitas tinggi di Liga Belanda adalah aset berharga. Konsistensi akan jadi ujian sesungguhnya bagi keduanya sepanjang musim 2026/27, mengingat jadwal liga yang sangat padat.
Namun untuk saat ini, debut Romeny dan soliditas Hubner telah menegaskan bahwa mereka bukan sekadar pemain pelengkap di klubnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.