Selasa, 11 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Startup Selandia Baru Ubah Peternakan Sapi dengan Kalung AI

Startup Selandia Baru Ubah Peternakan Sapi dengan Kalung AI
Startup Selandia Baru Ubah Peternakan Sapi dengan Kalung AI

Startup agritech asal Selandia Baru, Halter, sedang menarik perhatian lewat cara yang tidak biasa untuk mengelola sapi. Bukan pagar, bukan juga penggiringan manual. Perusahaan ini memakai kalung pintar yang terhubung ke GPS, kecerdasan buatan, dan satelit untuk membuat peternakan berjalan lewat batas virtual.

Sistem itu memungkinkan peternak menyusun area penggembalaan langsung dari aplikasi. Batasnya digambar di layar, lalu dijalankan oleh kalung yang dikenakan tiap sapi. Menurut situs resmi Halter per Senin, 10 Agustus 2026, perangkat ini memantau lokasi dan perilaku sapi selama 24 jam penuh.

Batas kandang pindah dari tanah ke layar ponsel

Di lapangan, perintahnya terdengar sederhana. Peternak mengubah garis batas di aplikasi, lalu sapi diarahkan mengikuti area baru tanpa harus didatangi satu per satu. Ketika kawanan perlu dipindahkan, pengelola cukup mengirim perintah dari ponsel. Tidak perlu datang ke padang rumput dan menggiring hewan secara fisik.

Kalung pintar itu juga memakai petunjuk suara dan getaran. Untuk sapi yang sudah terlatih, suara dari sisi kanan atau kiri kalung dipakai sebagai sinyal arah. Sistem ini membantu sapi tetap berada di zona yang ditentukan, atau bergerak ke area penggembalaan berikutnya. Praktis. Dan ringkas.

Peternak tak lagi bergantung pada pagar fisik

Pendekatan virtual fencing ini jadi pembeda utama Halter dibanding pola peternakan sapi konvensional yang masih bertumpu pada pagar fisik dan tenaga kerja. Dalam model lama, memindahkan kawanan dari satu titik ke titik lain butuh waktu, orang, dan infrastruktur. Halter mencoba memangkas semua itu lewat perangkat yang dipasang di leher sapi.

Bagi peternak, perubahan ini berarti pengelolaan lahan bisa berlangsung dari mana saja. Mereka bisa menata ulang batas penggembalaan dengan cepat, tanpa harus menunggu kondisi lapangan atau mengerahkan banyak orang. Bagi sapi, sistem ini menempatkan teknologi di pusat rutinitas harian mereka. Setiap langkah, setiap perpindahan, dipantau.

Bloomberg Technoz pada 11 Agustus 2026 menyoroti Halter sebagai salah satu contoh bagaimana AI mulai masuk ke sektor yang selama ini dianggap sangat manual. Bukan di kantor. Bukan di pabrik. Di padang rumput.

AI, satelit, dan sensor jadi tulang punggung

Kombinasi GPS, AI, dan konektivitas satelit membuat sistem ini tetap bekerja di area terbuka yang luas. Data lokasi dan perilaku sapi dipakai untuk membaca pergerakan kawanan, lalu mengirim sinyal yang sesuai melalui kalung pintar. Dari sana, batas virtual yang dibuat lewat aplikasi berubah menjadi instruksi nyata bagi ternak.

Model seperti ini menunjukkan bahwa adopsi AI tak selalu berkaitan dengan layar, chatbot, atau industri digital murni. Di Selandia Baru, teknologi itu justru dipakai untuk urusan paling mendasar dalam peternakan: mengatur arah gerak sapi. Sederhana di permukaan. Tapi dampaknya bisa besar bagi cara peternakan dikelola ke depan. Halter sudah menaruh jawabannya di leher sapi.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 11 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis