JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sepekan ke depan, 12-18 Agustus 2026, Indonesia masih akan didominasi cuaca kering. Kondisi ini sejalan dengan masuknya puncak fenomena El Niño kategori moderat hingga kuat yang diprediksi terjadi pada Agustus-September 2026.
Kondisi ini berpotensi membawa dampak signifikan. Curah hujan diproyeksikan sangat rendah di sebagian besar wilayah, meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di banyak daerah.
Agustus 2026 Diprediksi Puncak El Niño dan Kemarau
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan puncak musim kemarau 2026 diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026. Puncak ini akan mencakup 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4% wilayah Indonesia.
Sebelumnya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, telah menegaskan potensi El Niño pada 2026 sejak Maret 2026, yang kemudian diperkuat rilis World Meteorological Organization (WMO) pada 2 Juni 2026. Monitoring BMKG hingga akhir Mei 2026 menunjukkan indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) telah mencapai +1,0, mengindikasikan kondisi El Niño.
Sekitar 28% wilayah Indonesia juga telah memasuki musim kemarau. Dampak yang terasa adalah cuaca lebih panas dan musim kemarau datang lebih cepat, dengan risiko kekeringan dan karhutla yang meningkat.
Curah Hujan Sepekan 12-18 Agustus 2026 Sangat Rendah
BMKG memproyeksikan untuk Agustus 2026, sekitar 71,55% wilayah Indonesia akan menerima curah hujan kategori rendah. Hanya 28,31% wilayah yang diperkirakan masuk kategori menengah, dan sangat sedikit, 0,14%, yang akan menerima curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.
Sifat hujan pada periode Agustus-Oktober 2026 juga didominasi Bawah Normal. Artinya, curah hujan akan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Dinamika Atmosfer menunjukkan indeks Niño 3.4 dasarian masih tercatat +2.26 dengan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28.2. Indikator-indikator ini mengonfirmasi El Niño Event dengan intensitas kuat, yang secara signifikan menghambat pembentukan awan hujan. Meskipun demikian, peluang hujan ringan hingga lebat masih ada di wilayah yang dipengaruhi oleh Gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO).
Contoh Prakiraan Cuaca Harian di Palembang
Sebagai gambaran, berikut adalah prakiraan cuaca untuk wilayah Palembang selama periode 12-18 Agustus 2026:
| Hari/Tanggal | Cuaca | Suhu | Peluang Hujan |
|---|---|---|---|
| Rabu, 12 Agustus | Hujan | 23 – 36°C | 30% |
| Kamis, 13 Agustus | Cerah Berawan | 23 – 35°C | 10% |
| Jumat, 14 Agustus | Cerah Berawan | 24 – 36°C | 20% |
| Sabtu, 15 Agustus | Cerah | 24 – 36°C | 10% |
| Minggu, 18 Agustus | Cerah Berawan | 24 – 36°C | 10% |
Perlu dicatat, Indeks UV diprediksi mencapai 11 (Ekstrem) di banyak wilayah. Masyarakat diimbau waspada terhadap sengatan matahari langsung.
Wilayah yang Perlu Waspada
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026. Daerah terdampak meliputi pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah-Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk Jawa Barat, puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, termasuk wilayah Bandung Raya. Curah hujan di daerah-daerah ini akan lebih rendah dan durasi kemarau berpotensi lebih panjang dari normal.
Imbauan BMKG Hadapi Puncak Kemarau
Menghadapi puncak musim kemarau dan El Niño, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi, meliputi:
- Manajemen air: Pengelolaan waduk yang optimal dan persiapan sumur bor untuk pertanian.
- Hemat air bersih: Penggunaan air secara bijak untuk kebutuhan harian.
- Waspada karhutla: Sekitar 437 ZOM atau 48,77% wilayah daratan berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang.
- Hindari: Berada di bawah pohon, baliho, atau bangunan rapuh saat angin kencang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.