Sabtu, 5 September 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

El Nino 2026 Menguat, Ancaman Kekeringan Makin Nyata di Indonesia

El Nino 2026 Menguat, Ancaman Kekeringan Makin Nyata di Indonesia
El Nino 2026 Menguat, Ancaman Kekeringan Makin Nyata di Indonesia

Fenomena El Niño 2026 telah aktif dan kini diperkirakan bisa mencapai level sangat kuat. BMKG menyebut kondisi itu berpotensi membuat musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berjalan lebih kering dan lebih panjang, dengan risiko yang langsung terasa di lapangan: kekeringan, karhutla, hingga tekanan pada ketersediaan air.

Peringatan itu datang saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menunjukkan penguatan. Bagi Indonesia, dampaknya bukan sekadar udara lebih panas. Pola awan bergeser, hujan berkurang, dan sejumlah daerah masuk fase waspada. Berat. Soalnya musim kemarau tahun ini memang sudah diprakirakan lebih kering dibanding kondisi normal.

El Nino aktif, kemarau memanjang

BMKG pada 29 Juli 2026 menjelaskan, El Niño muncul ketika suhu permukaan laut di tengah Samudra Pasifik naik lebih dari 0,5 derajat Celsius. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan, kondisi saat ini sudah masuk kategori El Niño kuat. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, ia menyampaikan perlunya antisipasi nasional agar dampaknya tidak merembet ke sektor strategis.

Faisal juga menekankan bahwa El Niño berbeda dari musim kemarau. Kemarau datang tiap tahun, tapi ketika bertepatan dengan El Niño, situasinya berubah jauh lebih kering. Pada 2026, BMKG melihat pola itu mulai terbentuk: kemarau datang lebih awal di banyak wilayah, lalu bertahan lebih lama dari biasanya.

Dampak yang paling dekat: air, pangan, dan api

Risiko paling nyata ada pada pasokan air. Di sejumlah wilayah, berkurangnya pembentukan awan hujan membuat suplai air permukaan menyusut. Jika situasi ini dibiarkan, tekanan terhadap kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan layanan dasar bisa membesar. Guru Besar Pendidikan Fisika Unismuh Makassar, Prof. Nurlina, menilai El Niño dapat memicu musim kemarau yang lebih kering serta meningkatkan ancaman krisis air di daerah-daerah yang rentan.

BMKG juga mengingatkan efek lanjutan di sektor lain. Kekeringan bisa mengganggu produksi pangan, menaikkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menurunkan kualitas udara. Pada Juni 2026, lembaga itu mendorong kesiapsiagaan lintas sektor karena kategori El Niño tahun ini diproyeksikan kuat dan berpotensi memberi tekanan pada inflasi daerah. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Saat curah hujan turun dan lahan mengering, api bergerak cepat.

WMO ikut memberi sinyal cuaca ekstrem

Peringatan Indonesia sejalan dengan laporan terbaru World Meteorological Organization (WMO). Lembaga itu menyebut penguatan El Niño meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia, mulai dari gelombang panas, kekeringan, hujan lebat, sampai banjir. Fase ini memang dikenal sebagai bagian dari El Niño-Southern Oscillation atau ENSO, pola perubahan suhu permukaan laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang berulang dalam siklus sekitar dua hingga tujuh tahun.

Di Indonesia, pola atmosfer yang berubah membuat awan hujan lebih sulit terbentuk. Akibatnya, banyak daerah mengalami penurunan curah hujan. Situasi ini biasanya paling terasa saat kemarau memuncak. BMKG dan para pengamat iklim kini menempatkan kesiapsiagaan sebagai pekerjaan utama. Pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat diminta menyiapkan langkah hemat air, pengawasan titik rawan karhutla, serta respons cepat bila tanda-tanda kekeringan makin meluas. Pada fase berikutnya, yang akan diuji bukan cuma cuaca, tapi seberapa cepat sistem tanggap kita bekerja.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda