Kamis, 13 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Inovasi Sign Language AI: Ubah Gerakan Tangan Jadi Teks Instan

Seseorang menggunakan bahasa isyarat di depan kamera smartphone dengan teknologi Sign Language AI
Teknologi SL2T memungkinkan perangkat seluler memahami bahasa isyarat melalui pelacakan gerakan tangan yang akurat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pengguna bahasa isyarat kini memiliki akses komunikasi digital yang lebih setara lewat kehadiran teknologi sign language AI terbaru. Model kecerdasan buatan bernama SL2T ini dirancang untuk menerjemahkan gerakan tangan ke dalam bentuk teks secara real-time, membuka pintu bagi komunitas disabilitas rungu untuk berinteraksi dengan perangkat seluler dengan cara yang jauh lebih alami.

Selama puluhan tahun, kemajuan AI dalam memproses bahasa lisan seperti fitur dikte atau asisten suara telah dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Namun, revolusi ini sering kali melompati lebih dari 200 bahasa isyarat di dunia yang digunakan oleh sekitar 70 juta orang.

Kehadiran teknologi ini menjadi pembeda, memungkinkan pengguna untuk melakukan pencarian di web, menyusun pesan, hingga berinteraksi dengan asisten pintar Gemini hanya dengan menggunakan isyarat tangan di depan kamera ponsel.

Menaklukkan Tantangan Kompleksitas Bahasa Isyarat

Menerjemahkan bahasa isyarat bukan sekadar mengubah gerakan menjadi kata-kata. Dalam pengembangan SL2T, tim pengembang menghadapi dua tantangan teknis yang berat. Pertama, bahasa isyarat bukanlah bahasa lisan yang disalin ke tangan; ia adalah bahasa mandiri dengan tata bahasa dan leksikon yang unik.

Kedua, model AI harus memiliki kemampuan visi komputer tingkat tinggi untuk memahami gerakan simultan dari tangan, lengan, tubuh, hingga ekspresi wajah pengguna.

Berbeda dengan teknologi masa lalu yang terbatas pada penggunaan sarung tangan khusus, SL2T bekerja dengan melacak koordinat titik tubuh. Melalui bantuan MediaPipe Holistic, sistem hanya memproses lokasi titik-titik koordinat pada tubuh pengguna tanpa menyimpan rekaman video asli. Data video tersebut langsung dibuang untuk memastikan privasi pengguna tetap terjaga sepenuhnya.

Pengembangan model ini melibatkan data masif dari lebih dari 100.000 jam rekaman yang mencakup 50 lebih bahasa isyarat. Hasil pengujian menunjukkan performa yang signifikan, di mana model ini mampu mencapai skor 70 BLEURT dalam tolok ukur FLEURS-ASL, melampaui kemampuan model-model sebelumnya.

Keunggulan ini tercapai berkat keputusan untuk tidak menggunakan anotasi perantara atau glosses, melainkan menerjemahkan koordinat langsung menjadi teks yang mengalir.

Kolaborasi Bersama Komunitas Disabilitas

Pentingnya teknologi ini terletak pada kemampuannya menjembatani kesenjangan komunikasi antara komunitas disabilitas rungu dan masyarakat umum.

Sam Sepah, seorang karyawan Google penyandang disabilitas rungu, memimpin konsep pengembangan ini dengan menekankan prinsip bekerja bersama komunitas, bukan sekadar untuk mereka.

Seluruh tahapan, mulai dari pengumpulan data hingga evaluasi, melibatkan partisipasi aktif dari para ahli dan pengguna bahasa isyarat.

Untuk memastikan penyebaran teknologi ini berjalan etis dan bertanggung jawab, dibentuklah AI Sign Language Advisory Committee (AISLAC). Komite ini mempertemukan berbagai organisasi disabilitas global untuk menetapkan prioritas pengembangan.

Pendekatan kolaboratif ini mencakup pula rilis laporan dampak bersama saat peluncuran SL2T 1.0 pada aplikasi Gboard dan Live Transcribe, sebuah transparansi yang direncanakan akan terus dilakukan dalam setiap pembaruan teknologi di masa depan.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem Free Fire (FF) Hari Ini 13 Agustus 2026: Klaim Diamond & Skin Gratis