QESHM — Tumpahan minyak Iran di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz, meluas setelah kapal yang diduga menjadi sumber kebocoran diserang pada 3 Agustus. Video terverifikasi dan citra satelit yang dianalisis BBC Verify menunjukkan minyak hitam sudah mencapai pantai selatan pulau itu.
Dampaknya tidak kecil. Pencemaran ini mengancam satwa liar, ekosistem pesisir yang dilindungi, serta komunitas nelayan di sekitar Qeshm yang berada di jalur strategis perdagangan energi dunia.
Tumpahan minyak Iran terlihat dari pantai hingga satelit
BBC Verify mengatakan video yang dibagikan di media sosial memperlihatkan minyak kental berwarna hitam menghantam Suza beach di selatan Qeshm. Di sisi lain pulau, ada Hara Biosphere Reserve yang ditetapkan Unesco dan menjadi rumah bagi habitat penting bagi kehidupan laut serta burung migran.
Citra satelit pada 10 Agustus menunjukkan tumpahan itu tampak di area lebih dari 300 sq km atau 116 sq miles. Skala itu disebut setara dengan lebih dari 40.000 lapangan sepak bola. John Amos, CEO Skytruth, menyebut, “This is what I would call a major oil slick,” dan memperkirakan volumenya “well over” 100,000 US gallons (380,000 litres) minyak.
Analisis BBC Verify juga mengarah pada sumber kebocoran dari kapal kargo berbendera Liberia, Minoan Pioneer, yang dilaporkan diserang proyektil saat melintas dekat Oman oleh perusahaan keamanan pelayaran Vanguard. Dua hari kemudian, citra satelit memperlihatkan tumpahan itu membesar dan bergerak ke barat laut menuju Qeshm.
Selat Hormuz kembali rawan
Insiden ini menambah tekanan di Selat Hormuz, jalur sempit yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia. Sejak Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari, data dari perusahaan intelijen maritim Kpler mencatat ada 67 serangan terhadap kapal di sekitar selat itu.
Tehran pada dasarnya menutup jalur air tersebut, sementara Amerika Serikat juga memberlakukan blokade atas pelabuhan Iran. Dalam situasi seperti ini, satu serangan ke kapal tak berhenti pada kerusakan badan kapal saja. Ia bisa berubah menjadi masalah lingkungan yang menempel lama.
Samir Madani, pendiri TankerTrackers.com, mengatakan kepada BBC Verify bahwa ia yakin tumpahan itu berasal dari Minoan Pioneer dan menyebut serangan itu sebagai “self-inflicted wound by Iran”. Wim Zwijnenburg, pakar konflik lingkungan dari organisasi perdamaian Belanda PAX, juga menilai bukti visual mengarah ke kapal yang sama.
Ancaman ke mangrove, karang, dan nelayan
Dr Keyvan Hosseini dari University of Southampton menyebut lokasi pencemaran itu “very concerning”. Menurut dia, Qeshm memiliki habitat pesisir dan laut yang sensitif, termasuk mangrove, area peneluran penyu, dan wilayah tangkap ikan yang penting.
“This means the spill could have especially serious consequences for wildlife, ecosystems and local communities,” kata Hosseini kepada BBC Verify. John Amos juga mengingatkan minyak yang terlihat di permukaan mungkin hanya bagian atas dari dampak lingkungan. Komponen yang lebih berat bisa tenggelam dan menetap di dasar laut selama bertahun-tahun.
Media Iran sempat melaporkan asal pencemaran masih diselidiki, sementara juru bicara kementerian luar negeri Iran pada Kamis menyebut sumbernya adalah “foreign bulk ship”. Seorang pejabat perlindungan lingkungan setempat kemudian mengatakan tumpahan itu sudah “almost completely cleaned up”, meski BBC Verify belum bisa memastikannya secara independen.
Untuk Qeshm, pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang memulai insiden ini. Yang lebih mendesak: seberapa jauh minyak itu sudah meresap ke pantai, dasar laut, dan lokasi penangkapan ikan di sekitar pulau strategis Iran itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.