Rabu, 12 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

AS Tembakkan Rudal ke Kapal Vela Nova yang Langgar Blokade Iran

Kapal kargo Vela Nova saat blokade Iran ditegakkan
Kapal kargo berbendera Panama, Vela Nova, menjadi sasaran serangan setelah menolak perintah berhenti. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Militer Amerika Serikat menembakkan dua rudal Hellfire ke kapal kargo berbendera Panama, Vela Nova, pada Selasa setelah kapal itu disebut mengabaikan perintah untuk berhenti melanggar blokade Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut serangan itu membuat kapal tidak lagi melanjutkan pelayaran menuju Iran.

Dalam pernyataan resminya, CENTCOM mengatakan sistem kemudi kapal juga dinonaktifkan. Soal ada atau tidaknya korban di atas kapal, pihak militer AS belum mengumumkannya.

Serangan dilakukan setelah peringatan berulang

CENTCOM menjelaskan, sebuah helikopter MH-60 Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire ke ruang mesin Vela Nova setelah awak sipil kapal itu mengabaikan peringatan berulang dari pasukan Amerika. Pernyataan itu menegaskan bahwa blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlaku penuh.

Dalam rilis yang sama, CENTCOM menyebut pasukan AS yang beroperasi di Timur Tengah “highly vigilant, lethal, and ready”. Kalimat itu memperlihatkan nada keras Washington terhadap pelayaran yang dianggap menantang blokade.

Blokade itu sendiri diberlakukan Amerika Serikat pada April terhadap pelabuhan Iran dan wilayah pesisir di sebelah timur Selat Hormuz. Kebijakan itu kemudian dicabut pada Juni saat tercapai kesepakatan gencatan senjata sementara, sebelum diperkuat lagi pada pertengahan Juli.

Pada saat blokade dimulai, Presiden Donald Trump mengancam kapal yang berlayar dari pelabuhan Iran akan menghadapi “the same system of kill that we use against the drug dealers on boats at Sea”, merujuk pada serangan kontroversial pemerintahannya terhadap kapal-kapal di lepas pantai Venezuela.

Dampaknya terasa ke jalur pelayaran dan energi

Kasus ini penting karena Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya adalah jalur strategis bagi arus perdagangan laut. Ketika Iran merespons ofensif AS dan Israel pada 28 Februari dengan secara efektif menutup jalur itu untuk lalu lintas maritim, pasokan minyak dan gas dunia terganggu, lalu harga bahan bakar dan pangan ikut naik.

Tekanan itu tidak berhenti di atas peta militer. Setiap eskalasi di sekitar selat membuat pelaku logistik, perusahaan energi, dan pasar komoditas global harus menghitung ulang risiko pengiriman. Biaya pengamanan, jadwal pengapalan, dan kepastian rute ikut terdorong naik.

Bagi dunia usaha di Asia, termasuk Indonesia yang bergantung pada rantai pasok internasional, gejolak di jalur ini berpotensi merembet ke ongkos distribusi dan harga energi. Dampaknya mungkin tidak selalu langsung terlihat di pelabuhan dalam negeri, tetapi pasar biasanya cepat membaca sinyal dari kawasan yang satu ini.

Tehran dan Washington tetap berbeda soal kendali laut

Setelah kesepakatan awal dengan AS, Iran tetap berusaha mempertahankan pengaruh atas rute laut itu dengan meminta kapal memperoleh izin untuk melintas. Langkah tersebut memunculkan ancaman tuduhan di masa depan dan serangan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar.

Tehran mengklaim menguasai kanal itu. Klaim tersebut dibantah AS dan sejumlah negara lain yang mengacu pada hukum internasional soal kebebasan navigasi.

Sampai laporan ini disusun, CENTCOM baru menyampaikan bahwa 55 kapal komersial telah dialihkan untuk tidak menerobos blokade, 3 kapal tidak patuh telah dinonaktifkan, dan 2 telah dinaiki. Soal kondisi awak Vela Nova, militer AS belum memberi penjelasan lebih jauh.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda