TEHERAN — USS Abraham Lincoln disebut mulai tumbang setelah lebih dari 260 hari dikerahkan dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ribuan awak kapal induk itu dilaporkan menghadapi kelelahan parah, pasokan yang tersendat, dan masalah kesehatan mental saat misi tempur terus berjalan.
Kondisi di atas kapal memicu kemarahan keluarga awak dan mendorong anggota Kongres AS meminta penjelasan. Di saat yang sama, Amerika Serikat bersiap menarik USS Abraham Lincoln dari misi tempur dan menggantinya dengan USS George Washington di Timur Tengah.
Tekanan di atas USS Abraham Lincoln makin berat
Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz itu membawa sekitar 5.000 awak dan mampu mengangkut hingga 90 pesawat. Dalam kapasitas puncaknya, kapal tersebut bisa menjalankan lebih dari 100 sortie tempur per hari.
Namun, beban operasi yang panjang membuat situasi di kapal berubah jauh dari normal. USS Abraham Lincoln meninggalkan San Diego pada akhir November dan kini telah dikerahkan selama lebih dari 260 hari, termasuk lebih dari 200 hari berturut-turut di laut.
Menurut bahan yang dikutip dari sejumlah media AS, pengerahan sepanjang itu tergolong luar biasa bagi standar Angkatan Laut AS. Kapal juga menghabiskan sebagian besar masa tugasnya di lingkungan tempur, sementara Iran mengeklaim telah beberapa kali menargetkan kapal tersebut.
Pasokan menipis, fasilitas ikut bermasalah
Keluhan dari awak dan keluarga mereka menyentuh banyak hal. Pasta gigi, deodoran, sabun, air panas, air minum, toilet, laundry, sampai pasokan makanan disebut bermasalah.
Surat dari keluarga juga dikabarkan terlambat parah. Beberapa paket kiriman dilaporkan hilang dalam sistem selama berbulan-bulan. Ada pula laporan soal jamur, pipa rusak, dan bagian dek penerbangan yang berlubang akibat penggunaan intensif tanpa perbaikan memadai.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Mike Levin, bahkan mengutip keluhan soal jatah makan yang sangat terbatas. Ia mengeklaim makanan untuk para awak “hanya berupa setengah cangkir nasi dan dua tortilla (roti pipih).”
Laporan soal makanan minim itu pertama kali disebut USA Today pada pertengahan April. Saat itu, Pentagon membantah adanya kekurangan makanan. Tetapi, menurut Maritime Executive, masalah pasokan ikut dipengaruhi persoalan logistik karena pangkalan utama Armada ke-5 AS berada di Bahrain dan pengiriman harus melewati Selat Hormuz yang rawan serangan Iran.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.