Minggu, 16 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Ribuan Awak USS Abraham Lincoln Tumbang usai 8 Bulan Perang

Ribuan Awak USS Abraham Lincoln Tumbang usai 8 Bulan Perang
Ribuan Awak USS Abraham Lincoln Tumbang usai 8 Bulan Perang

TEHERAN — USS Abraham Lincoln disebut mulai tumbang setelah lebih dari 260 hari dikerahkan dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ribuan awak kapal induk itu dilaporkan menghadapi kelelahan parah, pasokan yang tersendat, dan masalah kesehatan mental saat misi tempur terus berjalan.

Kondisi di atas kapal memicu kemarahan keluarga awak dan mendorong anggota Kongres AS meminta penjelasan. Di saat yang sama, Amerika Serikat bersiap menarik USS Abraham Lincoln dari misi tempur dan menggantinya dengan USS George Washington di Timur Tengah.

Tekanan di atas USS Abraham Lincoln makin berat

Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz itu membawa sekitar 5.000 awak dan mampu mengangkut hingga 90 pesawat. Dalam kapasitas puncaknya, kapal tersebut bisa menjalankan lebih dari 100 sortie tempur per hari.

Namun, beban operasi yang panjang membuat situasi di kapal berubah jauh dari normal. USS Abraham Lincoln meninggalkan San Diego pada akhir November dan kini telah dikerahkan selama lebih dari 260 hari, termasuk lebih dari 200 hari berturut-turut di laut.

Menurut bahan yang dikutip dari sejumlah media AS, pengerahan sepanjang itu tergolong luar biasa bagi standar Angkatan Laut AS. Kapal juga menghabiskan sebagian besar masa tugasnya di lingkungan tempur, sementara Iran mengeklaim telah beberapa kali menargetkan kapal tersebut.

Pasokan menipis, fasilitas ikut bermasalah

Keluhan dari awak dan keluarga mereka menyentuh banyak hal. Pasta gigi, deodoran, sabun, air panas, air minum, toilet, laundry, sampai pasokan makanan disebut bermasalah.

Surat dari keluarga juga dikabarkan terlambat parah. Beberapa paket kiriman dilaporkan hilang dalam sistem selama berbulan-bulan. Ada pula laporan soal jamur, pipa rusak, dan bagian dek penerbangan yang berlubang akibat penggunaan intensif tanpa perbaikan memadai.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Mike Levin, bahkan mengutip keluhan soal jatah makan yang sangat terbatas. Ia mengeklaim makanan untuk para awak “hanya berupa setengah cangkir nasi dan dua tortilla (roti pipih).”

Laporan soal makanan minim itu pertama kali disebut USA Today pada pertengahan April. Saat itu, Pentagon membantah adanya kekurangan makanan. Tetapi, menurut Maritime Executive, masalah pasokan ikut dipengaruhi persoalan logistik karena pangkalan utama Armada ke-5 AS berada di Bahrain dan pengiriman harus melewati Selat Hormuz yang rawan serangan Iran.

Sinyal kelelahan mental mulai tampak

Masalah di kapal tidak berhenti pada logistik. Ada indikasi kuat bahwa kelelahan mental ikut menekan para awak.

Salah satu insiden yang dikonfirmasi Komando Pusat AS atau CENTCOM terjadi pada 3 Agustus. Seorang pelaut jatuh ke laut dari USS Abraham Lincoln dan berhasil diselamatkan sekitar satu jam kemudian.

CNN, mengutip pejabat AS, melaporkan Angkatan Laut AS memperlakukan insiden itu sebagai episode terkait kesehatan mental. Pelaut tersebut menjalani evaluasi medis dan kemudian dikeluarkan dari kapal untuk perawatan lebih lanjut.

Annabelle Loma, istri pelaut itu, mengatakan kepada Navy Times bahwa suaminya mengalami kelelahan emosional dan mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut. Ia juga menyebut suaminya tampak “ketakutan” dan khawatir akan mendapat “pemberhentian tidak terhormat, hanya karena dia sudah kelelahan.”

Dalam pertemuan dengan pimpinan Angkatan Laut, pasangan awak lainnya juga mengatakan suaminya mengirim pesan bahwa dia berharap “tidak bangun besok,” menurut laporan Stars and Stripes.

Kenapa ini penting untuk operasi AS di Timur Tengah

Krisis di USS Abraham Lincoln menunjukkan tekanan nyata pada operasi kapal induk AS di Timur Tengah. Bukan cuma soal kenyamanan awak, tapi juga daya tahan misi tempur yang bergantung pada logistik, disiplin personel, dan kesiapan fisik kapal.

Bagi warga dan pelaku keamanan regional, situasi ini penting karena kapal induk adalah salah satu simbol utama proyeksi kekuatan AS. Kalau pasokan terganggu, awak menurun, dan kelelahan mental makin sering muncul, ritme operasi tempur bisa ikut ikut terpengaruh.

Langkah Washington mengganti USS Abraham Lincoln dengan USS George Washington memperlihatkan bahwa rotasi kekuatan memang mulai dijalankan. Tapi penggantian itu juga menegaskan satu hal: beban perang yang berlarut-larut sudah mulai meninggalkan jejak pada manusia dan mesin di garis depan.

Di atas kapal, peringatan itu terasa sangat sederhana. Jatah makan, air bersih, dan waktu istirahat. Tiga hal yang justru paling cepat habis ketika perang tak kunjung reda.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda