JAKARTA — obligasi Treasury Amerika Serikat dinilai bisa menjadi keputusan investasi paling penting dalam 10 tahun ke depan. Dalam pandangan Rob Isbitts, analis dan kontributor Barchart, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang kini berada di bawah 4,7% membuat pasar surat utang pemerintah kembali layak dipertimbangkan serius.
Argumennya sederhana. Setelah bertahun-tahun suku bunga sangat rendah dan imbal hasil obligasi nyaris tak berarti, pasar obligasi justru sedang menawarkan peluang yang menurutnya sering diabaikan investor yang masih mengejar upside di saham.
Imbal hasil mendekati 4,7% dan posisi di kisaran atas
Isbitts menjelaskan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun saat ini berada di bawah 4,7%. Dalam empat tahun terakhir, pergerakannya berada di rentang 3,6% sampai 4,8%, sehingga level sekarang dinilai mendekati bagian atas dari kisaran itu.
Baginya, kondisi ini berbeda jauh dari era setelah 2008, ketika imbal hasil banyak bertahan di rentang 0% sampai 2%. Perubahan itu, kata dia, ikut mengubah perhitungan soal imbal hasil yang dibutuhkan investor untuk mengambil risiko saham.
“When guaranteed government debt yields 5%, taking equity risk requires expecting a clear premium in total return,” tulis Isbitts dalam artikelnya di Barchart.
Kenapa 5% di obligasi dianggap serius
Isbitts menyoroti satu hal yang menurutnya makin penting: ketika surat utang pemerintah memberi imbal hasil sekitar 5%, investor saham perlu menuntut premi yang jelas sebagai kompensasi atas risiko ekuitas. Tanpa itu, kata dia, memilih saham belum tentu masuk akal untuk semua profil dan horizon investasi.
Ia juga menyinggung strategi ladder atau pembelian obligasi bertahap yang ia sebut cocok untuk dirinya. Intinya bukan mengejar sensasi pasar, melainkan mengunci arus kas dan kepastian jatuh tempo pada nilai yang sudah diketahui sejak awal. Itu berbeda dengan obligasi ETF, yang nilainya bisa berfluktuasi lebih liar dan tidak selalu kembali ke angka pasti pada tanggal yang pasti.
Data historis S&P 500 yang dipakai sebagai pembanding
Untuk mendukung argumennya, Isbitts mengutip sejarah imbal hasil 10 tahun S&P 500 sejak 1928. Rata-rata return tahunan majemuk 10 tahun indeks itu berada di sekitar 10,2%.
Namun, tidak semua periode memberi hasil setinggi itu. Sekitar 75% dari seluruh jendela rolling 10 tahun di sejarah Amerika Serikat menghasilkan return nominal tahunan majemuk di atas 7%. Sebaliknya, dalam kira-kira 25% periode 10 tahun, S&P 500 gagal mencapai return 7% per tahun.
Ia menyebut beberapa periode “lost decades”, termasuk jendela 10 tahun yang dimulai pada 1929, 1968, dan 1999. Pada fase seperti itu, return tahunan majemuk bisa turun di bawah 3% atau bahkan negatif selama satu dekade penuh.
Apa dampaknya bagi investor
Soalnya, pilihan antara obligasi dan saham tidak lagi sesederhana mengejar pertumbuhan. Bagi investor yang butuh perlindungan pokok, kepastian pendapatan, atau punya horizon waktu yang jelas, imbal hasil tetap dari obligasi pemerintah bisa menjadi penyangga yang lebih tenang dibanding volatilitas saham.
Isbitts menulis bahwa bila seseorang harus membiayai target tertentu — termasuk dana untuk membeli rumah dalam beberapa tahun — mengunci sebagian portofolio di obligasi bisa mengurangi ketergantungan pada pasar saham yang naik-turun. Ia juga menegaskan bahwa dalam horizon 15 sampai 30 tahun, saham tetap punya daya tumbuh karena compounding dan dividen yang bisa naik seiring waktu.
Yang jadi titik tekan artikelnya bukan memilih satu aset untuk semua orang. Ia menilai pasar sekarang memberi sinyal bahwa investor tidak harus 100% di saham, apalagi ketika imbal hasil obligasi jangka panjang bertahan di kisaran 4% sampai 5% untuk waktu yang lebih panjang.
Dan di situlah letak pesan utamanya: keputusan membeli obligasi, menurut Isbitts, bisa tampak biasa saja hari ini, tapi mungkin justru terasa sangat masuk akal ketika orang melihat kembali satu dekade ke depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.