PALEMBANG — kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palembang pada Minggu, 16 Agustus 2026. Asap terlihat jelas di kawasan Sungai Musi, Jembatan Ampera, hingga area yang biasa dipakai untuk kegiatan Car Free Day.
Kondisi itu muncul saat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan ikut meningkat. Dari permukaan kota, langit tampak buram. Jarak pandang ikut terdampak, sementara aktivitas warga di ruang terbuka terasa lebih berat dari biasanya.
Kabut asap karhutla dan dampaknya ke aktivitas warga
Asap dari karhutla bukan cuma soal pemandangan yang berubah. Dampaknya cepat terasa pada kualitas udara, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan sejak pagi.
Sumber utama menyebut kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan. Anak-anak, lansia, dan warga dengan keluhan pernapasan jadi pihak yang paling perlu diwaspadai saat udara mulai dipenuhi partikel asap.
Di Palembang, kabut asap yang menutup area ikonik seperti Jembatan Ampera juga memberi efek langsung pada mobilitas. Warga yang melintas, pedagang, hingga peserta kegiatan luar ruang harus menyesuaikan langkah. Sederhana, tapi penting: ketika udara memburuk, ritme kota ikut berubah.
Imbauan kesehatan tidak bisa diabaikan
Dinas Kesehatan Kota Palembang sudah mengimbau warga untuk mewaspadai dampak buruk kabut asap. Kepala Dinas Kesehatan Palembang, Fenty Aprina, menyebut kualitas udara di Kota Palembang berada pada level tidak sehat dan harus diwaspadai bersama.
Ia juga menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Palembang menjalankan surat edaran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Nomor: 400.7.8.3/3496/Kes/VIII/2026 tentang kewaspadaan dan kesiapsiagaan dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Dalam imbauannya, Dinkes Palembang meminta masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, sering mencuci tangan dengan sabun, memperbanyak minum air putih, serta memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Pesan itu diarahkan terutama pada kelompok yang lebih rentan terkena gangguan akibat paparan asap.
Fenty juga menegaskan puskesmas di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan untuk menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah ini disiapkan supaya layanan bisa bergerak cepat jika warga membutuhkan pertolongan.
Kenapa kabut asap karhutla jadi soal penting sekarang
Soalnya, kabut asap karhutla tidak berhenti pada satu titik kota. Begitu kondisi udara menurun, dampaknya merembet ke sekolah, pasar, kantor, perjalanan harian, sampai kegiatan olahraga dan acara publik. Warga yang biasanya leluasa beraktivitas di luar ruangan harus mulai menghitung risiko sejak pagi.
Antaranews dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah juga melaporkan langkah antisipasi yang serupa di daerah terdampak kabut asap. Di Kalbar, jajaran pemasyarakatan menyiapkan pemantauan kesehatan dan pemeriksaan untuk mencegah ISPA. Di Barito Utara, Dinas Kesehatan membagikan 1.000 masker kepada pengguna jalan sebagai langkah sederhana untuk mengurangi paparan.
Rangkaian langkah itu memperlihatkan satu hal: kabut asap bukan isu lokal semata. Begitu musim kemarau dan karhutla bergerak, sektor kesehatan langsung ikut siaga. Masyarakat pun diminta membaca situasi udara dari hari ke hari, bukan menunggu gejala muncul dulu.
Di Palembang, perhatian kini tertuju pada seberapa lama kabut asap bertahan dan bagaimana kualitas udara bergerak dalam beberapa hari ke depan. Bila asap masih menetap, aktivitas luar ruang akan makin banyak menyesuaikan diri dengan kondisi langit kota yang belum benar-benar bersih.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.