Senin, 17 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Survei BI: Harga Properti di Bali Naik 1,02% pada Kuartal II/2026

Survei BI
Survei BI

Geliat bisnis hunian di Bali belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di wilayah Bali merangkak naik sebesar 1,02 persen pada kuartal II/2026. Angka ini mencerminkan dinamika pasar yang terus bergerak meski tekanan biaya produksi menghimpit para pengembang di Pulau Dewata.

Kenaikan harga tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Hampir seluruh pengembang di lapangan merasakan jeratan kenaikan biaya bahan bangunan yang cukup tajam sepanjang April hingga Juni. Harga semen, baja, hingga material pendukung lainnya memaksa harga jual unit properti ikut terkerek.

Belum lagi urusan upah tukang. Tarif tenaga kerja konstruksi kini ikut menyesuaikan diri, membuat modal pembangunan satu unit rumah membengkak dibandingkan periode sebelumnya.

Beban di Balik Kenaikan Harga

Kenaikan biaya produksi menjadi pemicu paling dominan. Pengembang praktis tidak punya banyak celah untuk menekan harga jual tanpa harus mengorbankan kualitas bangunan atau memangkas margin keuntungan yang sebenarnya sudah tipis. Situasi ini menciptakan efek domino yang dirasakan langsung oleh konsumen di hilir.

Situasi makin rumit ketika calon pembeli berhadapan dengan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Angka 1,02 persen mungkin terlihat moderat, namun jika disandingkan dengan fluktuasi bunga perbankan, beban cicilan bulanan menjadi momok bagi masyarakat yang berniat memiliki hunian.

Banyak calon pembeli kini lebih berhati-hati. Mereka menghitung ulang proyeksi cicilan jangka panjang sebelum benar-benar membubuhkan tanda tangan di atas surat perjanjian kredit.

Masalah tidak berhenti pada biaya produksi atau bunga bank. Geografi Bali sendiri menjadi faktor pembatas yang nyata. Lahan di titik-titik strategis seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar semakin langka. Kelangkaan tanah matang yang siap bangun memicu perang harga antar pengembang.

Akibatnya, nilai perolehan lahan meroket dan harga akhir hunian pun terpaksa melambung untuk menutupi biaya akuisisi tanah yang sudah tidak masuk akal bagi sebagian orang.

Dilema Pelaku Industri

Bagi para pengembang, tantangan tahun 2026 adalah efisiensi. Mereka yang mampu mengelola rantai pasok material dengan cerdas akan bertahan. Manajemen pengadaan lahan juga menjadi kunci utama untuk tetap kompetitif. Tanpa strategi yang matang, sulit bagi pelaku industri untuk menjaga harga tetap terjangkau di pasar yang semakin jenuh dengan aturan tata ruang yang ketat.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair