JAKARTA — Penarikan dana Rusia dari bank-bank nasional mencapai 286,4 miliar rubel atau setara $3,4 miliar pada dua pekan pertama Agustus. Lonjakan ini terjadi saat serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia makin intens dan memicu kekhawatiran soal keamanan simpanan di perbankan.
Data itu dikutip The Washington Post dari Bank Sentral Rusia. Dampaknya mulai terasa ke likuiditas bank, sementara warga Rusia disebut makin memilih memegang uang tunai ketimbang menyimpannya di rekening.
Tarik tunai besar-besaran di bank Rusia
The Washington Post melaporkan, arus keluar uang tunai di Rusia kini berada pada level rekor. Kekhawatiran publik menguat bahwa Kremlin bisa mengambil langkah untuk menyita uang demi membiayai perang dengan Ukraina.
Alexandra Prokopenko, mantan penasihat Bank Sentral Rusia, menilai penarikan dana Rusia itu memperlihatkan tingkat ketakutan yang tinggi di masyarakat.
Ia mengatakan, “It means people have no trust in the Russian banking system or in the Russian financial system,” dan menambahkan, “This is all a consequence of the fear that the government will do something with the banking system, that it could nationalise deposits.”
Seorang mantan pejabat senior keuangan Rusia yang berbicara kepada surat kabar itu juga menggambarkan suasana serupa. “Drones are flying. Things are burning down. Nervousness is growing,” katanya. Ia menambahkan bahwa orang-orang kini merasa perlu menyimpan uang “under my pillow” alih-alih di bank yang mungkin tak bisa mengembalikannya.
Masalah likuiditas mulai muncul
Penarikan massal ini tidak berhenti di level psikologis. Menurut mantan pejabat itu, sejumlah bank Rusia mulai menghadapi masalah likuiditas karena mereka tak menduga penarikan dana Rusia akan sebesar ini. Dana tunai yang mereka miliki sudah lebih dulu ditempatkan ke aset atau penyaluran lain.
“For some banks this really is a problem,” ujarnya. Ia menambahkan, arus keluar itu mencapai “half a trillion rubles a month.” Kalimat itu memberi gambaran betapa cepat tekanan muncul saat publik memilih menarik uang dalam jumlah besar.
Bagi sistem keuangan, situasi seperti ini membuat bank harus lebih hati-hati menjaga ketersediaan kas. Bagi warga, rasa aman di bank justru melemah. Dan saat kepercayaan turun, efeknya bisa merambat ke perilaku menabung, pembayaran, sampai keputusan rumah tangga untuk menyimpan uang di rumah.
Perang Ukraina dan tekanan ke Rusia
Di sisi lain, Ukraina terus menekan Rusia lewat serangan drone dan operasi lain di medan perang maupun wilayah belakang garis depan. Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut Kyiv menargetkan setiap drone di garis depan dibekali kemampuan AI, bagian dari rencana membangun “AI-driven army” untuk identifikasi target, engagement, dan battle damage assessment.
Serangan ke infrastruktur energi juga masih terjadi. DTEK, perusahaan listrik Ukraina, menyebut sebuah pembangkit listrik termal di Ukraina tengah menghentikan operasi pada Selasa setelah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan Rusia. Perusahaan itu tak menyebut nama pembangkitnya, tetapi mengatakan fasilitas termalnya telah diserang lebih dari 230 kali sejak invasi penuh dimulai pada 2022.
Tekanan lintas-bidang ini ikut membentuk suasana ekonomi dan keamanan yang rapuh. Ketika perang berlanjut, bank, fasilitas energi, dan warga sipil sama-sama masuk ke dalam lingkaran risiko yang makin lebar.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga kembali menekan Moskow lewat unggahan di X. “Putin continues to drag out the war instead of accepting Ukraine’s realistic ceasefire proposals and ending the bloodshed,” katanya. Ia menegaskan, selama Moskow menolak damai, Rusia harus menghadapi biaya yang makin besar melalui sanksi tambahan, isolasi, dan akuntabilitas atas kejahatan Rusia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.