Deretan kampus di Inggris kini berada dalam posisi terjepit. Data terbaru dari Home Office menunjukkan aplikasi visa pelajar di negara tersebut merosot tajam sebesar 11 persen menjadi 381.500 dalam kurun waktu satu tahun hingga Juli 2026.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahaya bagi stabilitas finansial sektor pendidikan tinggi yang selama ini sangat bergantung pada devisa mahasiswa asing.
Kondisi paling mencolok terlihat pada kategori visa bagi keluarga mahasiswa. Permohonan dari tanggungan siswa terjun bebas menjadi 19.200 dalam 12 bulan terakhir.
Jika ditarik mundur ke Desember 2023, tepat sebelum pemerintah setempat memperketat aturan, penurunan ini mencapai angka fantastis 87 persen. Kebijakan yang dulunya bertujuan membatasi arus migrasi, kini justru menjadi bumerang bagi kas universitas.
Aturan Ketat yang Menekan
Pemerintah Inggris memang tidak main-main. Sejak Juni lalu, otoritas setempat memberlakukan standar kepatuhan visa yang jauh lebih ketat.
Universitas kini dibebani target pendaftaran siswa yang sulit dijangkau, sembari dipaksa menjaga tingkat penolakan visa tetap berada di bawah ambang batas 5 persen. Belum lagi pemangkasan periode visa lulusan yang membuat daya tawar Inggris di mata pelajar global kian memudar.
Efek dari regulasi ini sudah terbaca jelas. Laporan dari konsultan pendidikan Navitas per 11 Agustus menunjukkan minat pelajar dunia terhadap Inggris sedang berada di titik nadir. Para agen rekrutmen melaporkan lebih dari tiga perempat calon siswa kini mulai melirik negara tujuan di luar empat pasar tradisional utama, yakni Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada.
Di lorong-lorong kampus, kecemasan mulai terasa nyata. Pihak universitas kini menahan napas, memantau data Agustus dengan saksama. Bulan ini biasanya menjadi periode paling krusial bagi aplikasi visa menjelang tahun ajaran baru. Jika arus pendaftaran terus menyusut, dampaknya bukan hanya soal kursi kosong di ruang kelas.
Lisa Randall, partner dan kepala nasional pendidikan tinggi di firma RSM UK, memberikan peringatan keras. Menurutnya, penurunan berkelanjutan ini bakal memaksa banyak universitas untuk merombak total rencana jangka panjang mereka. “Institusi mungkin akan memangkas investasi domestik dan terpaksa mencari peruntungan dengan memperluas operasi di luar negeri demi menutupi defisit,” ujarnya.
Lubang Besar dalam Ekonomi
Kerugian ekonomi ini bukan lagi sekadar potensi, melainkan kenyataan pahit. Sebuah riset yang dipesan oleh Higher Education Policy Institute (HEPI) dan Kaplan International Pathways mengungkapkan kerugian finansial yang sangat masif.
Penurunan jumlah siswa luar negeri tahun pertama selama dua tahun akademik terakhir telah menghilangkan sekitar £2,9 miliar atau setara US$3,89 miliar dari ekonomi Inggris.
Perubahan kebijakan imigrasi, termasuk larangan membawa tanggungan bagi sebagian besar mahasiswa, diprediksi menyumbang penurunan jumlah mahasiswa internasional tahun pertama 2024-25 sebanyak 54.500 orang. Total populasi mahasiswa internasional yang memulai kursus di Inggris pun tercatat hanya 685.565 orang untuk periode tersebut.
Analisis tersebut tidak hanya menghitung biaya kuliah semata. Kerugian yang diderita ekonomi lokal mencakup hilangnya pengeluaran harian mahasiswa selama tinggal di Inggris, hingga berkurangnya kunjungan keluarga dan kerabat yang selama ini rutin menyuntikkan uang ke sektor ritel dan jasa.
Bagi banyak universitas, model pendanaan yang selama ini mengandalkan “subsidi silang” dari siswa internasional kini terancam tidak lagi berkelanjutan.
Kini, tantangan besar berada di pundak para pengelola kampus. Mereka harus memutar otak mencari cara agar tetap bisa beroperasi normal di tengah aturan imigrasi yang kian menyempitkan ruang gerak. Jika tren 11 persen ini tidak segera dibendung, kampus-kampus ternama Inggris bukan tidak mungkin akan mengalami krisis likuiditas yang lebih dalam pada semester mendatang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.