Kamis, 20 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Prediksi Suku Bunga The Fed September 2026: Ditahan 67%? Dampak ke Emas & Rupiah

Prediksi Suku Bunga The Fed September 2026
Prediksi Suku Bunga The Fed September 2026: Ditahan 67%? Dampak ke Emas & Rupiah. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Pasar global menyoroti rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Federal Reserve pada September 2026. Prediksi suku bunga The Fed September 2026 menunjukkan peluang besar bahwa bank sentral Amerika Serikat itu akan menahan suku bunga acuan. Perkiraan ini menguat menyusul data ekonomi AS yang cenderung melemah baru-baru ini.

Keputusan The Fed ini memiliki dampak signifikan pada harga emas XAUUSD, nilai tukar Rupiah, dan aliran dana investasi ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Investor dan pelaku pasar kini mencermati setiap sinyal untuk menyesuaikan strategi.

Peluang 67% The Fed Tahan Suku Bunga

Menurut pantauan dari CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang mencapai 67 persen. Angka ini mencerminkan sentimen pasar yang semakin dovish, terutama setelah serangkaian rilis data ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi.

Pendorong utama di balik ekspektasi ini adalah laporan penjualan ritel AS yang anjlok 0,6 persen pada Juli, sebagaimana dirilis oleh Census Bureau. Penurunan ini menjadi indikasi jelas bahwa permintaan konsumen mulai melambat, sebuah faktor penting yang dipertimbangkan The Fed dalam kebijakan moneternya. Perlambatan konsumsi bisa meredakan tekanan inflasi, memberikan ruang bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga.

Selain itu, Departemen Keuangan AS (US Treasury) mengumumkan rencana untuk menggandakan pembelian kembali obligasi. Langkah ini berpotensi menekan yield obligasi AS dan membuat dolar melemah. Yield obligasi yang lebih rendah cenderung membuat aset tanpa bunga seperti emas menjadi lebih menarik bagi investor.

Meskipun analis MUFG, Soojin Kim, menyebut bahwa konflik AS-Iran dapat memicu inflasi dari sisi energi, kekhawatiran The Fed saat ini lebih terfokus pada pertumbuhan ekonomi domestik yang melambat. Hal ini mengindikasikan bahwa The Fed mungkin akan memprioritaskan stabilitas pertumbuhan ekonomi ketimbang menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi yang bersifat eksternal.

Reaksi Pasar: Emas Menguat, Dolar Melemah

Ekspektasi kebijakan The Fed yang cenderung menahan suku bunga telah memicu respons signifikan di pasar. Harga emas spot XAUUSD, misalnya, sempat melonjak 2 persen ke level 4.516,10 dolar AS per troy ounce. Kenaikan ini menunjukkan bagaimana ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat mendukung harga emas.

Analis Wall Street Journal mencatat bahwa emas telah menunjukkan tren penguatan, naik 0,91 persen pekan lalu dan 8,18 persen dalam dua minggu terakhir. Prospek rate hold membatasi pelemahan emas dan membuatnya tetap menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian.

Sementara itu, dolar AS (DXY) cenderung melemah. Selisih suku bunga dengan negara lain yang menyempit membuat daya tarik dolar berkurang di mata investor global. Dolar AS yang melemah umumnya berdampak positif bagi komoditas yang diperdagangkan dalam dolar, seperti emas.

Dampak Potensial ke Rupiah dan IHSG

Jika The Fed benar-benar menahan suku bunga, Rupiah (IDR) berpotensi menguat. Investor asing mungkin akan kembali melirik instrumen investasi di pasar berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan saham di Indonesia. Aliran dana masuk ini akan memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berpeluang positif. Sektor teknologi dan perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan tinggi (growth stocks) seringkali diuntungkan dari lingkungan suku bunga rendah karena biaya pinjaman yang lebih murah dan valuasi masa depan yang lebih menarik. Harga emas Antam di dalam negeri juga berpotensi naik, mengikuti pergerakan XAUUSD dan pelemahan dolar AS.

Skenario Alternatif dan Jadwal Rapat

Meski peluangnya kecil, sekitar 33 persen, The Fed tetap bisa memutuskan untuk menaikkan suku bunga. Jika skenario ini terjadi, emas kemungkinan akan mengalami koreksi tajam karena kenaikan biaya peluang memegang aset tanpa bunga. Dolar AS akan menguat secara signifikan, menekan nilai tukar Rupiah dan memicu arus keluar dana dari pasar berkembang.

Rapat FOMC The Fed dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September 2026. Pasar akan sangat mencermati beberapa indikator kunci selama rapat tersebut. Proyeksi suku bunga The Fed yang dikenal sebagai ‘Dot Plot’ akan memberikan gambaran tentang pandangan para anggota FOMC terhadap arah kebijakan moneter di masa depan. Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, mengenai inflasi dan lapangan kerja juga akan menjadi fokus utama.

Sebelum rapat, rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Agustus akan menjadi krusial. Angka-angka ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan tekanan inflasi, yang pada akhirnya akan memengaruhi keputusan The Fed.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair