TEHERAN — Iran mempertimbangkan untuk menyerang target militer AS di Eropa jika Presiden AS Donald Trump meningkatkan eskalasi perang. Laporan itu muncul saat Teheran menimbang perluasan konflik di luar Timur Tengah.
Financial Times melaporkan hal itu pada Rabu, 19/8/2026, dan Anadolu mengutip laporan tersebut pada Kamis, 20 Agustus 2026. Dalam laporan itu, pasukan Iran disebut sudah mengkaji kemungkinan serangan ke aset-aset AS di negara-negara Eropa bagian tenggara.
Bulgaria dan Siprus masuk daftar pantauan
Menurut dua sumber yang dekat dengan pemerintah Iran, salah satu negara yang dipantau adalah Bulgaria. Negara itu bulan lalu menyetujui penggunaan pangkalan udara Bezmer miliknya oleh pesawat pengisi bahan bakar AS.
Siprus juga disebut berada dalam daftar potensi target bila terjadi serangan baru dari AS. Salah satu sumber menyebut pulau itu ikut dipertimbangkan setelah pangkalan udara Inggris di sana diserang pesawat nirawak pada bulan Maret.
Nama-nama itu penting. Bukan hanya soal jarak tempuh. Jika skenario ini benar-benar bergerak, konflik yang selama ini terkunci di Timur Tengah bisa menyentuh fasilitas militer Barat di wilayah Eropa.
Dampaknya ke eskalasi perang
Ancaman semacam ini membuat jalur konflik jauh lebih rumit. Sekali target Amerika di Eropa ikut masuk hitungan, ruang respons Washington dan sekutu Eropanya bisa berubah, dan tensi militer berisiko meluas ke wilayah yang sebelumnya relatif jauh dari front utama.
Bagi negara-negara yang menampung fasilitas militer atau logistik AS, pesan dari Teheran ini menambah tekanan keamanan. Mereka tidak lagi hanya memikirkan pertahanan di sekitar Timur Tengah, melainkan juga kemungkinan dampak lintas kawasan bila bentrokan AS-Iran naik kelas.
Iran juga menyiapkan senjata yang lebih presisi
Di saat bersamaan, korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menegaskan Iran sudah menyiapkan senjata yang lebih presisi jika permusuhan pecah lagi. Juru bicara IRGC Hossein Mohebi mengatakan, “Jika perang kembali pecah, senjata yang kami gunakan tentu akan berbeda, baik dari segi generasi hulu ledak, tingkat presisi, jangkauan rudal, maupun parameter lainnya,” seperti dikutip Jpnn dari Defa Press.
Mohebi juga menyebut Teheran terus meningkatkan seluruh persenjataannya dengan mengembangkan senjata yang lebih presisi, lebih destruktif, dan lebih maju secara teknologi. Pernyataan ini sejalan dengan nada keras yang terus keluar dari aparat keamanan Iran sejak ketegangan dengan AS memanas.
ANTARA juga mengutip pernyataan serupa dari IRGC, dengan menegaskan bahwa Iran menyiapkan senjata lebih dahsyat jika permusuhan kembali pecah. Dalam laporan itu, pejabat AS sebelumnya disebut CNN telah beralih ke strategi “pencekikan” ekonomi bertahap terhadap Iran ketimbang mengambil tindakan militer.
Trump kemudian mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran dan menyebutnya sebagai upaya isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga mendorong negara-negara sekutu untuk ikut bergabung. Dari titik ini, medan konfrontasi tidak lagi hanya soal rudal dan pangkalan, tapi juga tekanan ekonomi dan blok politik.
Iran belum membuka detail soal target mana yang paling mungkin diserang atau bagaimana skenarionya akan dijalankan. Namun pesan yang keluar sudah jelas: jika eskalasi terus naik, Eropa tidak lagi aman dari imbas langsung konflik AS-Iran.
“Jika perang kembali pecah, senjata yang kami gunakan tentu akan berbeda,” kata Mohebi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.