Sektor energi, diwakili oleh Adaro Energy Indonesia (ADRO), turut merespon positif penguatan IHSG. Saham ADRO ditutup pada harga Rp2.570, naik Rp10 atau 0,39%.
| Data ADRO | Angka |
|---|---|
| Harga | Rp2.570 (+Rp10 / +0,39%) |
| Open – High – Low | 2.560 – 2.580 – 2.560 |
| Market Cap | Rp74,02 Triliun |
| P/E Ratio | 8,36 |
| Dividen | 10,25% |
| Revenue Q1 2026 | 470,9 juta USD (+23,4% YoY) |
| 52 Week Range | 1.625 – 2.700 |
Kinerja ADRO menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, melonjak 23,4% YoY pada Kuartal I 2026. Dengan dividen yield 10,25% dan P/E 8,36, ADRO menawarkan kombinasi menarik antara pertumbuhan dan imbal hasil. Namun, perlu diingat bahwa saham ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga batubara global.
Level support ADRO ada di Rp2.560, sedangkan resistance di Rp2.580, dengan target harga Rp2.600.
Tabel Komparasi BBCA vs BMRI vs ADRO
Untuk mempermudah perbandingan, berikut adalah tabel komparasi ketiga emiten tersebut:
| Keterangan | BBCA | BMRI | ADRO |
|---|---|---|---|
| Harga Hari Ini | Rp6.450 | Rp4.200 | Rp2.570 |
| Perubahan | +0,78% | +1,20% | +0,39% |
| Market Cap | 787,17 Triliun | 388,08 Triliun | 74,02 Triliun |
| P/E | 13,67 | 6,29 | 8,36 |
| Dividen | 5,24% | 11,36% | 10,25% |
| Sektor | Perbankan | Perbankan | Energi |
Ketiga emiten ini sama-sama diuntungkan oleh sentimen penguatan IHSG. Namun, setiap saham memiliki karakteristik dan potensi risiko yang berbeda. BBCA menonjol untuk pertumbuhan stabil dan fundamental yang kuat. BMRI menarik bagi pemburu dividen dan valuasi yang relatif murah. Sementara itu, ADRO menawarkan potensi pertumbuhan dari sektor komoditas dengan dividen yang tinggi, namun dengan sensitivitas lebih tinggi terhadap harga batubara global.
Investor perlu mempertimbangkan risiko seperti perubahan suku bunga untuk sektor perbankan dan volatilitas harga komoditas untuk sektor energi, sebelum mengambil keputusan investasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.