Kamis, 27 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Menag Tekankan MTQ KORPRI Bentuk Watak dan Etika ASN

Menag Tekankan MTQ KORPRI Bentuk Watak dan Etika ASN
Menag Tekankan MTQ KORPRI Bentuk Watak dan Etika ASN. (Ilustrasi: AI)

Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menegaskan Musabaqah Tilawatil Quran VIII KORPRI punya arti lebih besar daripada ajang lomba baca Al Quran. Dalam pembukaan di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (24/8), ia menyebut kegiatan itu harus membentuk watak dan etika aparatur sipil negara.

Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin saat membuka MTQ VIII KORPRI yang digelar di Makassar. Pesannya jelas. ASN diminta tidak berhenti di panggung kompetisi.

Al Quran sebagai pembentuk perilaku birokrasi

Nasaruddin mengatakan MTQ jangan dipandang semata sebagai lomba tilawah, hafalan, kaligrafi, atau wawasan keislaman. Semua unsur itu penting, tapi bukan tujuan akhir. Yang lebih pokok, kata dia, adalah menghadirkan Al Quran sebagai kekuatan pembentuk karakter aparatur negara.

Ia menekankan perjalanan spiritual mesti bergerak berlapis. Dari tilawah ke pemahaman. Lalu naik ke penghayatan. Ujungnya, pengabdian nyata dalam tugas negara. Pendek. Tegas. ASN tidak cukup hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga mesti membawa nilai itu ke meja kerja, layanan publik, dan sikap keseharian.

Dalam keterangan di Makassar, Selasa, Menag juga mengingatkan bahwa nilai Al Quran, terutama Surah An-Nisa ayat 58, menjadi fondasi etika birokrasi. Ayat itu menegaskan amanah harus disampaikan kepada yang berhak dan keputusan dijalankan dengan adil. Bagi ASN, pesan ini sangat dekat dengan kerja rutin yang menuntut disiplin, ketelitian, dan tanggung jawab.

Peserta dari 38 provinsi memadati defile

MTQ VIII KORPRI tingkat nasional tahun 2026 di Sulawesi Selatan ini diikuti 1.157 peserta yang tergabung dalam 117 kafilah dari 38 provinsi. Mereka juga datang dari 79 kementerian dan lembaga. Jumlahnya besar. Suasananya pun terasa semarak sejak defile kafilah digelar di Makassar pada Senin (24/8).

Sekretaris Daerah Kota Makassar Andi Zulkifly menyebut kota itu menjadi lokasi pembukaan dan defile seluruh peserta. Ia menjelaskan ajang ini tidak hanya diikuti kabupaten dan kota, tapi juga kementerian. Kehadiran kafilah dari berbagai instansi membuat MTQ KORPRI punya warna lain dibanding lomba keagamaan biasa.

Pembukaan itu juga disambut dengan Tari Pakkarena Muri-Muriang dari kelompok binaan Dinas Kebudayaan Kota Makassar. Setelahnya, defile berlanjut dengan penampilan marching band binaan Dinas Pemuda dan Olahraga. Riuh, teratur, dan cukup ramai. Makassar tampil sebagai tuan rumah yang ingin memberi kesan hangat sejak awal.

Pesan etika birokrasi yang dibawa ke arena lomba

Bagi Nasaruddin, MTQ KORPRI tidak boleh berhenti pada kompetisi yang enak ditonton. Ia menempatkannya sebagai ruang pembinaan ASN agar nilai agama masuk ke cara bekerja. Amanah dijaga. Etika dibangun. Pelayanan publik ikut terdorong lebih bersih dan tertib.

Pesan itu datang di tengah pelaksanaan MTQ VIII KORPRI yang melibatkan ribuan peserta dari hampir seluruh penjuru Indonesia. Di panggung pembukaan, gaung ayat dan defile kafilah bertemu dalam satu pesan yang sama: birokrasi butuh watak, bukan sekadar prosedur. 1.157 peserta, 117 kafilah, 38 provinsi. Angkanya bicara sendiri.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda