Jumat, 28 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Ekonom Tetap Optimistis, Publik Justru Makin Pesimistis Soal Ekonomi RI

Ekonom Tetap Optimistis, Publik Justru Makin Pesimistis Soal Ekonomi RI
Ekonom Tetap Optimistis, Publik Justru Makin Pesimistis Soal Ekonomi RI

Optimisme para ekonom terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga pada semester II-2026, tetapi sentimen publik bergerak ke arah sebaliknya. Survei Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) yang dilakukan secara daring menunjukkan jurang persepsi yang makin jelas antara kalangan ekonomi-bisnis dan masyarakat umum.

Bagi pembaca, perbedaan pandangan ini bukan sekadar angka survei. Ia memberi sinyal bahwa rasa percaya terhadap arah ekonomi belum merata. Satu pihak melihat fondasi masih kuat. Pihak lain justru makin waswas.

Ekonom melihat pertumbuhan 5 persen sebagai modal

Dalam survei yang melibatkan 4.012 responden berlatar belakang ekonomi, para ekonom dan pelaku bisnis menilai kondisi ekonomi Indonesia pada semester I-2026 cukup positif. Indeks persepsi mereka berada di level 60. Mereka membaca pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen sebagai modal untuk menjaga laju ekonomi nasional tetap bergerak.

Pandangan itu bahkan menguat saat responden diminta menilai prospek semester II-2026. Indeks persepsi naik menjadi 62,3. Angka itu lebih tinggi dari penilaian terhadap semester pertama. Masih ada keyakinan. Cukup kuat, bahkan.

PP ISEI merekam bahwa kelompok responden berlatar ekonomi dan bisnis cenderung percaya kinerja ekonomi bisa dipertahankan. Mereka tidak melihat 5 persen hanya sebagai capaian sesaat, melainkan pijakan untuk menahan pelemahan. Di titik ini, para ekonom tampak menatap paruh kedua 2026 dengan kepala dingin dan ekspektasi yang relatif stabil.

Publik umum bergerak ke arah pesimistis

Gambaran di masyarakat umum berbeda jauh. Survei PP ISEI menunjukkan publik justru makin pesimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Persepsi ini menandai jarak yang lebar antara cara pandang ahli ekonomi dan rasa yang muncul di tingkat masyarakat.

Jurang itu penting. Soalnya, optimisme para ekonom belum otomatis berubah menjadi keyakinan publik. Orang bisa saja membaca data makro dengan tenang, tapi tetap merasakan tekanan di kehidupan sehari-hari. Karena itu, sentimen masyarakat kerap menjadi ujian paling keras bagi kesehatan ekonomi.

ISEI membaca sinyal kepercayaan yang belum seragam

Hasil survei ini menunjukkan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia belum menyebar merata. Di satu sisi, kalangan ekonomi dan bisnis masih percaya semester II-2026 punya ruang untuk bertahan. Di sisi lain, publik umum justru menarik rem.

Bagi pembuat kebijakan, perbedaan persepsi semacam ini bisa menjadi alarm awal. Angka pertumbuhan yang dipandang cukup oleh ekonom belum tentu terasa sama di rumah tangga dan di ruang publik. Dan itu yang sering menentukan arah emosi pasar, percakapan warga, sampai keyakinan terhadap masa depan ekonomi.

PP ISEI sendiri menegaskan persepsi positif itu lahir dari penilaian atas pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pada semester I-2026. Namun data survei yang sama juga memperlihatkan satu hal yang tak bisa diabaikan: saat para ekonom masih optimistis, masyarakat umum justru sedang menjauh dari optimisme itu. “Kinerja pertumbuhan 5 persen dinilai sebagai modal untuk terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata PP ISEI dalam temuan surveinya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda