Paparan yang dialami anak-anak bahkan jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia lain. Jumlah anak yang menghadapi tambahan paparan panas itu hampir tiga kali lipat dibandingkan sekitar 190 juta orang berusia 60–69 tahun yang mengalami ancaman serupa.
Ini bukan angka kecil yang lewat begitu saja. Bagi keluarga, beban itu bisa terasa lewat anak yang lebih mudah lelah, lebih sulit beraktivitas di luar ruangan, dan lebih rentan sakit ketika suhu udara naik tajam.
Asia Tenggara ikut masuk peta risiko
Para peneliti menyebut peningkatan panas lembap akibat perubahan iklim paling besar terjadi di wilayah tropis serta negara-negara dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi dan populasi yang relatif muda. Kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan Afrika Barat saat ini menjadi wilayah dengan jumlah anak paling banyak yang menghadapi heat stress berbahaya.
Artinya, isu ini punya jarak yang sangat dekat dengan Indonesia. Di wilayah beriklim tropis, tekanan panas tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan hunian, akses kesehatan, dan kondisi sosial ekonomi yang membuat sebagian keluarga lebih sulit mengurangi paparan panas pada anak.
Dampaknya juga tidak hanya datang lewat suhu tubuh yang naik. Peneliti menyebut ancaman tidak langsung mencakup peningkatan penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk, terganggunya pola pemberian makanan kepada anak, dan meningkatnya risiko komplikasi saat persalinan.
Soal proyeksi, angka yang muncul makin tinggi
Studi itu juga memotret masa depan dengan dua skenario suhu global. Jika suhu rata-rata global naik 1,5 derajat Celsius, sekitar 620 juta anak usia 0 sampai 9 tahun diperkirakan akan mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress setiap tahun. Sekitar 390 juta anak diproyeksikan akan mengalami total sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.
Dalam skenario kenaikan suhu 2 derajat Celsius, jumlah anak yang mengalami setidaknya satu bulan tambahan heat stress per tahun diperkirakan naik menjadi 650 juta orang. Sekitar 420 juta anak diproyeksikan akan mengalami sedikitnya lima bulan heat stress setiap tahun.
Para peneliti menilai situasi itu menunjukkan perubahan iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu rata-rata Bumi. Di level rumah tangga, sekolah, dan layanan kesehatan, artinya anak-anak akan hidup lebih lama dengan paparan panas yang menuntut perlindungan lebih serius.
“Perubahan iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu rata-rata Bumi,” demikian benang merah temuan para peneliti, yang menempatkan anak-anak sebagai kelompok dengan beban paparan paling lama dan paling berat di masa depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.