Kritik lain menyasar komposisi narasumber. Menurut ulasan itu, wawancara justru didominasi para eksekutif rekaman laki-laki yang menjelaskan naik-turunnya karier Arena.
Ada pula catatan bahwa film melewati cepat hubungan kerja Arena dengan mantan manajer sekaligus mantan suami, Ralph Carr, yang disebut sebagai terpidana pemerkosaan. Di sini, dokumenter terasa ingin merayakan, tetapi belum cukup berani menguliti lapisan paling rumitnya.
The Shaggs, album yang disebut terburuk tapi terus dibicarakan
Di sisi lain, We Are The Shaggs mengangkat kisah yang jauh lebih ganjil. Di New Hampshire, Amerika Serikat, pada 1960-an, seorang ayah yang obsesif memaksa tiga saudari remaja — Dot, Helen, dan Betty Wiggins — memainkan alat musik yang jelas belum mereka kuasai. Hasilnya, lahirlah The Shaggs dan album Philosophy of the World, rekaman yang selama puluhan tahun dipuja sekaligus dicemooh.
Album itu pernah dipuji Frank Zappa sebagai “better than The Beatles”, tetapi juga dihancurkan Rolling Stone sebagai “the worst album ever recorded”. Film Ken Kwapis memanfaatkan dua kutub ekstrem itu tanpa memihak. Dari awal, ia sudah menaruh penonton di tengah pertanyaan sederhana tapi tajam: apakah ini musik?
Jawabannya dikejar lewat suara ahli, penggemar, dan dua tribute act yang menarik. Ada band Brooklyn yang merekonstruksi semua tuning dan timing nyeleneh The Shaggs, lalu duo biola String Noise yang mengolah ulang karya mereka sebagai eksperimen intelektual. Sebagian terasa meyakinkan, sebagian lain justru membuat kekacauan itu semakin terlihat. Dan memang itu poinnya.
Film ini tidak menghukum. Sebaliknya, ia menaruh Dot dan Betty sebagai manusia biasa yang hidup di bawah kendali ayah yang menekan. Lagu-lagu mereka tentang hewan peliharaan, mobil cepat, cinta, dan keinginan untuk memberontak terdengar polos, tapi justru di situ daya tariknya. Ada sesuatu yang mentah, aneh, dan jujur.
Untuk penonton, kisah seperti The Shaggs penting karena mengingatkan bahwa nilai seni sering kali tidak lahir dari kesempurnaan teknis. Kadang, justru dari ketidaksempurnaan lah perdebatan besar muncul.
Film ini memperlihatkan bagaimana karya yang dulu ditertawakan bisa berubah menjadi bahan kajian, inspirasi, bahkan kultus. Dalam industri musik, itu berarti batas antara gagal dan berpengaruh ternyata bisa sangat tipis.
Komentar paling tajam datang dari Susan Rogers, insinyur Prince sekaligus akademisi, yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang berhak memutuskan mana yang bagus dan mana yang buruk. Pertanyaan itu menutup film dengan bobot yang pas, karena warisan The Shaggs memang bukan cuma soal album ganjil, tapi soal cara publik memberi label pada seni.
Melihat dua dokumenter itu berdampingan, MIFF menawarkan dua cara memandang musik: satu lewat bintang besar yang kariernya panjang tapi masih menyimpan banyak sudut gelap, satu lagi lewat band yang sempat dianggap bahan olok-olok namun justru bertahan sebagai legenda pinggiran. Keduanya dipertemukan oleh satu festival, dan oleh pertanyaan yang sama: apa yang membuat sebuah karya layak dikenang?
Tina Arena: Unravel Me dijadwalkan tayang di bioskop nasional mulai 27 Agustus, sementara We Are The Shaggs muncul sebagai salah satu sorotan paling unik dari program Music On Film MIFF tahun ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.