Senin, 31 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Ekonomi Pancasila Kembali Dibahas, Dzikrulloh Sorot Arah Pembangunan

Ekonomi Pancasila Kembali Dibahas, Dzikrulloh Sorot Arah Pembangunan
Ekonomi Pancasila Kembali Dibahas, Dzikrulloh Sorot Arah Pembangunan. (Ilustrasi: AI)

Gagasan ekonomi Pancasila kembali mengemuka di Jombang saat Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlangsung. Dzikrulloh, dosen Universitas Trunojoyo Madura yang menjadi pembedah buku, menempatkan karya itu sebagai pengingat arah pembangunan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Bedah buku Ekonomi Pancasila digelar TIMES Indonesia di Posko TIMES Indonesia, Perumahan Bahrul Ulum Menara Asri, Tambakberas, Jombang, Sabtu, 29 Agustus 2026. Suasana diskusi berjalan ramai. Buku karya Djoni Sudjatmoko itu memancing obrolan yang berujung pada pertanyaan lama: ke mana arah ekonomi nasional seharusnya bergerak.

Ideologi bangsa dibawa kembali ke meja diskusi

Dzikrulloh menilai buku itu relevan karena membuka lagi hubungan antara Pancasila dan pembangunan ekonomi nasional. Ia menaruh pembahasan itu bukan sebagai wacana pinggiran. Justru di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kata dia, ideologi bangsa tidak semestinya hilang dari percakapan publik, apalagi ketika menyangkut ekonomi yang menyentuh hajat hidup banyak orang.

Pernyataannya muncul di hadapan peserta bedah buku yang datang ke arena Muktamar NU. Dari forum itu, gagasan ekonomi Pancasila dibaca sebagai ajakan untuk melihat ulang pondasi pembangunan. Bukan sekadar soal teori. Ini soal arah.

Minat pembaca meluas di luar forum

Antusiasme pengunjung tidak berhenti setelah sesi diskusi selesai. Sebanyak 35 eksemplar buku Ekonomi Pancasila diburu muktamirin dan pengunjung yang hadir di arena muktamar. Sejumlah pembaca bahkan mendatangi penulis untuk meminta tanda tangan langsung. Ada juga yang sempat berbincang dan menyampaikan temuan mereka setelah membaca buku itu.

Respons seperti itu menunjukkan pembahasan ekonomi Pancasila tidak menguap begitu saja usai forum. Permintaan agar penulis hadir di kampus dan komunitas juga muncul, membuka peluang berlanjutnya diskusi di luar Muktamar ke-35 NU. Soalnya, tema yang dibawa buku itu bersinggungan dengan nilai Pancasila, UUD 1945, ekonomi kerakyatan, kepemimpinan etik, integritas, sampai tantangan ekonomi di hadapan perkembangan teknologi.

Diskusi yang belum berhenti

Di Jombang, buku ini tidak diperlakukan sebagai koleksi meja. Ia jadi pemantik. Dan dari cara peserta berebut mendekat, meminta tanda tangan, lalu bertanya lagi, terlihat ada ruang yang masih terbuka lebar untuk membicarakan kembali model pembangunan ekonomi yang sesuai dengan ideologi bangsa.

Bagi Dzikrulloh, buku karya Djoni Sudjatmoko itu bukan sekadar bacaan forum. Ia menyebutnya sebagai pengingat saat banyak orang mulai lupa pada pijakan ideologis sendiri. Diskusi di Tambakberas pun meninggalkan satu arah lanjutan yang jelas: pembahasan ekonomi Pancasila kemungkinan besar tak berhenti di Jombang, sebab minat pembaca sudah lebih dulu bergerak ke kampus dan komunitas.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda