Senin, 31 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

KONI Pusat Desak NTB Kompak Jelang Tugas Besar PON 2028

KONI Pusat Desak NTB Kompak Jelang Tugas Besar PON 2028
KONI Pusat Desak NTB Kompak Jelang Tugas Besar PON 2028. (Ilustrasi: AI)

KONI Pusat meminta seluruh unsur olahraga Nusa Tenggara Barat menjaga kekompakan setelah Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI NTB XIII berakhir tanpa memilih ketua umum baru. Seruan itu disampaikan di Mataram, Minggu, saat NTB bersiap memegang peran sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional 2028.

Peringatan ini datang pada saat yang sensitif. Musorprov justru berakhir dengan keputusan KONI Pusat mengambil alih kendali organisasi dan menyiapkan caretaker untuk mengawal proses berikutnya. Bagi NTB, urusan ini bukan sekadar pergantian kepengurusan. Taruhannya lebih besar: kesiapan daerah menyambut PON 2028 dan menjaga suasana olahraga tetap stabil.

Soliditas jadi pesan utama

Kepala Bidang Organisasi KONI Pusat, Eko Budi, menekankan bahwa semua pihak di NTB perlu menahan ego masing-masing dan kembali ke tujuan awal. Ia berharap perbedaan dalam proses musyawarah tidak memecah barisan insan olahraga daerah.

“Harapannya semua elemen dapat bersatu agar kita bisa bersama-sama meningkatkan prestasi olahraga NTB, tidak hanya di kancah nasional, tetapi juga di tingkat regional hingga dunia,” ujar Eko Budi usai pembukaan Musorprov KONI NTB di Mataram.

Pesan itu sejalan dengan dorongan dari pemerintah daerah. Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, sebelumnya mengingatkan bahwa pilihan dalam proses demokrasi organisasi boleh berbeda, tetapi setelah musyawarah selesai, semua pihak harus kembali satu langkah. Ia menyebut forum Musorprov sebagai ruang untuk mengevaluasi arah kepengurusan dan menata kekuatan olahraga NTB menuju PON 2028 bersama Nusa Tenggara Timur.

KONI Pusat siapkan caretaker

Di tengah belum lahirnya ketua baru, KONI Pusat bergerak mengambil alih jalannya organisasi untuk sementara. Eko menyebut caretaker akan diturunkan untuk mengawal musyawarah pengurusan lanjutan agar tata kelola tetap berjalan cepat dan berada di koridor hukum.

Menurut keterangan dari Musorprov XIII, forum yang digelar di Hotel Lombok Raya, Mataram, pada Minggu itu memang tidak menghasilkan ketua umum periode 2026-2030. Penyebabnya bukan karena kebuntuan sidang, melainkan persoalan administratif. Dua bakal calon yang ikut penjaringan dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Situasi itu membuat agenda pemilihan tidak bisa dilanjutkan. KONI NTB lalu memasuki masa transisi, dan caretaker disiapkan untuk memastikan roda organisasi tidak berhenti terlalu lama. Proses ini singkat, kata Eko, meski detail tahapan berikutnya belum dijelaskan lebih jauh.

PON 2028 jadi ujian bersama

Bagi NTB, PON 2028 menjadi ujian yang menuntut kerja kolektif. Eko Budi menilai persiapan daerah tak akan cukup bila hanya diserahkan pada satu kepengurusan atau satu cabang olahraga. Dibutuhkan suasana yang tenang, komunikasi yang rapi, dan dukungan semua unsur olahraga.

Pernyataan itu terasa relevan melihat dinamika yang mengiringi Musorprov beberapa waktu terakhir. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal juga sempat meminta masyarakat menyikapi proses pemilihan dengan tenang dan menyalurkan energi positif untuk agenda besar NTB sebagai tuan rumah PON 2028.

“Pilihan boleh berbeda, tetapi tujuan kita tetap sama. Setelah proses musyawarah selesai, kita semua harus kembali bersatu,” kata Indah dalam Musorprov XIII KONI NTB.

KONI Pusat kini menunggu tahapan caretaker berjalan. Dan Eko menutup pesannya dengan satu penekanan yang lugas: semua elemen olahraga NTB harus bersatu jika ingin prestasi daerah naik, baik di level nasional maupun lebih jauh lagi.

(AS)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda