Ada juga instalasi seni dari Guerilla Girls yang mengajak penonton menuliskan keluhan di papan tulis, dan respons yang muncul mencerminkan nada festival: “PROTECT QUEER KIDS!”, “Put women in charge and pay us more!!!”, “ICE OUT!”, hingga “ABORTION RIGHTS 4 ALL.”
Atmosfer itu terasa jauh dari acara amal yang kaku. Grace Slevin, 24, mengatakan orang biasanya tidak bergerak bersama kalau tidak merasa terhubung dengan kelompok yang menggerakkannya. “What’s better than music?” ujarnya. Melissa Shaw, 33, datang dari Tucson, Arizona, bersama putri berusia 8 tahun.
Ia sengaja ingin anaknya bertanya sambil melihat langsung kerja para nonprofit, bukan hanya menonton dari pagar penonton.
Shaw menyukai fakta bahwa Rodrigo tidak hanya mengangkat organisasi besar seperti Planned Parenthood. Ada pula kelompok yang fokus pada kesehatan ibu kulit hitam dan akses susu formula bayi. Baginya, itu memberi contoh yang konkret tentang figur publik yang memakai panggung besar untuk urusan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jejak Lilith Fair dan konteks politik yang ikut membayangi
Rodrigo mengambil inspirasi dari Lilith Fair, festival semua perempuan yang mengumpulkan US$10 juta untuk amal dari 1997 sampai 1999.
Sarah McLachlan, yang mendirikan Lilith Fair karena ingin menepis anggapan industri musik bahwa artis perempuan tak bisa dibooking beruntun, ikut tampil bersama Rodrigo pada Sabtu itu.
Dari sisi organisasi, Caren Spruch dari Planned Parenthood National Director of Arts and Entertainment mengingatkan bahwa konser seperti ini penting untuk menjangkau orang “where they are.”
Konteks politiknya juga tidak ringan. Di bawah Presiden Donald Trump, upaya mengubah hibah family planning yang dipakai klinik kesehatan reproduksi untuk layanan kontrasepsi dan pengobatan infeksi menular seksual ikut membayangi acara ini.
Administrasi Trump sempat menghentikan US$27,5 juta tahun lalu untuk organisasi-organisasi seperti itu, termasuk beberapa afiliasi Planned Parenthood, sebelum dana tersebut dipulihkan lagi oleh pejabat.
Bagi banyak pihak di festival itu, angka US$20 juta bukan cuma pencapaian satu hari. Dana itu menandai cara baru menghubungkan konser pop dengan gerakan sosial, terutama ketika isu kesehatan reproduksi, perlindungan kerja, dan akses layanan publik terus diperdebatkan di Amerika Serikat.
Rodrigo sendiri muncul dalam video informatif di media sosial Planned Parenthood, sebuah langkah yang oleh Spruch dinilai membantu menormalkan seluruh spektrum kesehatan dan hak reproduksi.
FreeFrom founder Sonya Passi menyebut, di masa ketika keputusan tentang tubuh, kesehatan, keselamatan, dan masa depan dibuat untuk perempuan, bukan oleh perempuan, satu hari yang dibangun di atas care dan community sudah menjadi pernyataan tersendiri.
Setelah Irv ine, perhatian kini mengarah ke satu pertanyaan yang lebih besar: apakah model festival seperti ini akan diikuti artis besar lain untuk mengubah konser menjadi mesin dana dan ruang edukasi sekaligus.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.