SURABAYA — Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji menyampaikan pesan khusus kepada KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Sarmuji yakin tokoh pesantren itu mampu merangkul seluruh kelompok internal organisasi dan mengembalikan suasana guyub dan adem setelah dinamika sengit yang terjadi selama Muktamar ke-35 NU.
“Kami yakin Gus Kikin bisa menjadi sosok yang akomodatif, merangkul semua kelompok di PBNU yang mungkin sempat memanas karena muktamar,” ujar Sarmuji dalam keterangan resmi di Surabaya, Senin (31/8).
Penetapan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dilakukan melalui musyawarah Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Proses pengambilan keputusan berlangsung sekitar 40 menit, mulai pukul 06.20 hingga 07.00 WIB. Selain Gus Kikin, KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU untuk periode yang sama.
Kompromi setelah Penjaringan Ketat
Sebelum mekanisme AHWA, Gus Kikin telah membuktikan daya tarik politiknya di kalangan internal NU. Dalam tahapan penjaringan bakal calon, ia meraih dukungan terbanyak dengan perolehan 472 suara dari unsur Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU).
Lima nama lain yang memasuki daftar calon berdasarkan syarat adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Cholil Staquf, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
Gus Kikin sendiri, yang sebelumnya menjabat Ketua PWNU Jawa Timur (2024-2029), telah mengumumkan bahwa pencalonannya merupakan mandat langsung dari struktur NU di provinsi tempat pesantrennya berdiri. Selama muktamar, ia aktif mengajak warga NU untuk kembali merapatkan barisan dan menjaga kebersamaan organisasi.
Kepercayaan pada Kemampuan Komunikasi
Sarmuji menilai kemampuan Gus Kikin dalam membangun komunikasi dan menjaga kesejukan sosial menjadi modal utama untuk menyatukan kembali organisasi yang sempat bergejolak. Pendekatan akomodatif itu diyakini cocok dalam situasi NU pasca-muktamar, ketika berbagai kelompok internal perlu disatukan kembali di bawah satu visi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.