Alexandra Eala kembali menambah bab penting dalam kariernya. Petenis Filipina berusia 21 tahun itu menjuarai Mubadala DC Open di Washington, Amerika Serikat, setelah menundukkan unggulan pertama Jessica Pegula 4-6, 6-4, 6-0 pada final yang sempat tertunda hujan.
Gelar WTA 500 yang mengubah peta
Kemenangan itu membuat Eala menjadi petenis Filipina pertama yang merebut trofi WTA 500. Momen ini terasa besar bukan semata karena level turnamennya tinggi, melainkan juga karena cara Eala menuntaskannya: tertinggal, lalu bangkit. Saat laga dilanjutkan, ia sempat berada dalam posisi 3-4 pada set kedua. Dari sana, pertandingan berbalik total. Eala merebut sembilan gim terakhir dan menutup laga dengan skor telak di set penentuan.
“Saya sama sekali tidak menyangka akan mengangkat trofi ini,” kata Eala dalam laman WTA. Kalimat itu terdengar wajar untuk pemain muda yang sebelumnya sempat gagal memaksimalkan empat championship point saat kalah dari Maya Joint pada final Eastbourne Open tahun lalu. Kini ceritanya berbeda. Trofi di Washington jadi pembalasan yang manis.
Jejak kejutan dari Wimbledon ke Indian Wells
Nama Eala memang sudah lebih dulu bergema di Wimbledon bulan lalu. Ia menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek di babak ketiga, menang 7-6(9), 6-2, lalu memastikan diri sebagai petenis Filipina pertama yang melangkah ke babak keempat Grand Slam. Di Centre Court, ia tampil sabar dalam set pertama yang berlangsung 84 menit, kemudian mengambil alih kendali pada set kedua. Berat. Tapi ia tidak goyah.
Sebelum itu, Eala juga mencuri perhatian di Indian Wells. Ia melaju ke babak keempat WTA 1000 setelah lawannya, Coco Gauff, mundur karena cedera ketika pertandingan memasuki set kedua. Dalam wawancara usai laga, Eala mengaku tak ingin menang dengan cara seperti itu, meski tetap menyebutnya sebagai momen besar karena bisa bermain di Lapangan 1 Indian Wells. Dari turnamen ke turnamen, ia terus menemukan panggung yang lebih besar.
Nama yang makin diperhitungkan di Asia Tenggara
Lonjakan performa Eala ikut tercermin dalam daftar peringkat WTA. Dalam pembaruan terbaru, ia naik 16 peringkat ke posisi 31 dunia, capaian tertinggi dalam kariernya saat itu. Lonjakan itu datang setelah rangkaian hasil kuat di awal tahun, termasuk semifinal Abu Dhabi Open dan perempat final Doha Open. Pada periode yang sama, Janice Tjen dari Indonesia juga naik ke peringkat 36 tunggal putri. Dua nama Asia Tenggara itu sama-sama masuk radar, meski jalur dan hasil mereka tidak identik.
Di Washington, Eala kembali menunjukkan sesuatu yang sulit diabaikan: daya tahan mental. Ia melewati unggulan kedua Elina Svitolina, unggulan ketiga Naomi Osaka, lalu Pegula di final. Bukan daftar yang kecil. Dan dari deretan kemenangan itu, satu angka paling menonjol tetap sama: sembilan gim beruntun di partai puncak yang mengantar sejarah baru bagi Filipina.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.