Jogja Coffee Week ke-6 resmi bergulir di Jogja Expo Center, Yogyakarta, pada 4-6 September 2026. Ajang ini menyedot 195 peserta dari dalam dan luar negeri, dan langsung jadi panggung besar bagi pelaku kopi dari hulu sampai hilir.
Gelaran yang memasuki tahun keenam itu juga menunjukkan perubahan skala. Dari pameran yang dulu hanya menempati area kecil, kini acara kopi ini mengambil dua hall di JEC. Besar. Dan padat.
Wadah pasar, UMKM, dan jejaring internasional
Di lokasi pameran, stan-stan UMKM berdiri berdampingan dengan perwakilan dari negara-negara ASEAN dan Jepang. Foto ANTARA memperlihatkan pengunjung menyusuri stan, sementara peserta Brewers Competition mempresentasikan racikannya di hadapan dewan juri. Suasananya hidup, tapi tetap terasa kompetitif. Wakil Ketua Kadin DIY, Robi Kusumaharta, juga terlihat berbincang dengan peserta asal Jepang, menandai kuatnya unsur jejaring lintas negara dalam acara ini.
Penyelenggara memosisikan Jogja Coffee Week sebagai ruang yang menyatukan pemasok dan pecinta kopi di satu tempat. Di saat yang sama, KAI Daop 6 Yogyakarta ikut hadir lewat booth layanan untuk memperkenalkan informasi perjalanan, layanan penumpang, hingga pendaftaran membership dan Face Recognition langsung di lokasi. Kehadiran banyak unsur itu membuat pameran ini tidak berdiri sebagai festival biasa. Ada transaksi, ada promosi, ada pertemuan bisnis. Semua bertumpuk di satu arena.
Tekanan agar kopi naik kelas
Dari sisi kebijakan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar pameran kopi di Yogyakarta tidak berhenti pada penjualan green bean atau bahan mentah. Arahan itu disampaikan saat menerima panitia Jogja Coffee Week 2026 di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada 24 Agustus 2026. Pesannya jelas: kopi harus punya nilai tambah.
Ketua Organizing Committee JCW #6, Rahadi Saptata Abra, menyambut arahan itu dan menyebutnya sejalan dengan agenda Indonesia Coffee Business Summit yang digelar dalam rangkaian acara. Fokusnya bergeser ke hilirisasi, ke produk olahan, ke nilai ekonomi yang lebih besar. Bukan sekadar jual biji kopi. Bukan cuma raw material.
Skala yang terus membesar
Rahadi sebelumnya menyebut gelaran tahun ini juga menambah dua kategori baru. Targetnya, merangkul seluruh lini ekosistem kopi, dari petani sampai industri. Bahkan, menurut catatan Tempo, JCW 2026 melibatkan 13 perwakilan petani hingga industri kopi dari Jepang. Jumlah peserta yang mencapai 195 orang membuat ruang pameran penuh sesak, tapi justru di situlah tanda pertumbuhannya.
Sejak berawal pada 2019 dengan sekitar 20 stan kecil, Jogja Coffee Week berkembang jadi etalase besar industri kopi. Tahun ini, statusnya makin tegas: pameran, pertemuan dagang, dan arena diplomasi ekonomi dalam satu paket. Rahadi menutup penjelasannya dengan nada yang tidak ambigu, bahwa ajang ini memang disiapkan untuk mendorong kopi melampaui level bahan mentah. “Kami lebih banyak berbicara tentang hilirisasi kopi,” ujarnya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.