JAKARTA — hotel 81 kamar di Eureka Springs, Arkansas, itu dibeli Greg Clark seharga US$2,55 juta dan kini digarap ulang dengan anggaran renovasi US$1,1 juta. Pria 33 tahun ini menargetkan properti tersebut berubah menjadi Hotel Expedition, dengan pembukaan sekitar Natal 2026.
Yang membuat kisah ini menarik, Clark tidak datang dari keluarga hotel atau dana besar. Ia pernah berhenti dari pekerjaannya saat usia 19 tahun, membayar sewa, lalu hanya menyisakan US$20 di tangan. Dari titik serendah itu, ia membangun bisnis demi bisnis sampai akhirnya masuk ke dunia perhotelan.
Dari jual ban bekas ke bisnis hotel
Menurut laporan PEOPLE, Clark sempat kembali tinggal bersama ibunya setelah keluar dari pekerjaan. Ia lalu membeli dan menjual ban bekas lewat Craigslist dari carport rumah ibunya. Dari usaha sampingan itu, bisnis otomotifnya berkembang menjadi perusahaan lintas negara bagian dan lintas lokasi.
Pandemi pada 2020 mengubah arah pikirannya. Clark mulai mencari bidang lain yang bisa menopang keluarga tanpa harus terjebak jam kerja 100 jam per pekan. Ia menemukan real estat, lalu jatuh cinta pada renovasi rumah lama. Tapi ia tidak terlalu menikmati peran sebagai pemilik properti sewaan.
Dari situ, ia beralih ke short-term rentals dan merasa paling cocok di sisi hospitality. “I found real estate and ended up falling in love with renovating old homes, but not so much with being a landlord,” kata Clark kepada PEOPLE. Ia menambahkan bahwa ia akhirnya bisa memadukan ruang yang indah dengan kepuasan saat orang lain menyukai ruang itu.
Pengalaman itu membawanya ke proyek hotel yang lebih besar. Pada akhir 2025, Clark membeli hotel pertamanya di Montana dekat Yellowstone National Park. Setelah renovasi total, hotel itu dibuka pada awal 2026. Meski belum menghasilkan keuntungan, pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin dengan jalur bisnis yang ia pilih.
Hotel 81 kamar dengan atrium kolam renang
Proyek terbaru Clark berada di Eureka Springs, di jantung Ozarks. Bangunan itu berdiri sejak 1993 sebagai Holiday Inn Holidome, gaya hotel yang populer pada 1990-an karena kamar-kamarnya mengelilingi area kolam renang dalam ruangan.
Clark menyebut dirinya langsung terpikat ketika pertama kali masuk ke properti itu. “I was inspired to buy this 81-room hotel the moment I walked the property and set foot inside the pool atrium,” ujarnya. Ia yakin ruang atrium kolam itu bisa bertahan lama jika elemen lain di properti dibuat dengan tepat.
Namun, kondisi awal properti ini jauh dari mulus. Kolam dan hot tub harus ditutup karena rusak parah. Lift juga bermasalah. Beberapa sistem HVAC perlu diganti, dan pekerjaan HVAC saja membutuhkan crane khusus serta unit komersial berukuran besar.
Lobby pun sedang ditutup karena tamu sulit bergerak di area itu. Bagi Clark, penyelesaian bagian ini jadi prioritas dalam beberapa pekan ke depan. Setelah bangunan tak mendapat perawatan layak selama lebih dari 30 tahun, ia mengaku menemukan banyak kejutan tak terduga selama renovasi berlangsung.
Apa yang ditawarkan Hotel Expedition
Clark tidak hanya ingin memperbaiki bangunan. Ia ingin menjual pengalaman. Dalam proyek yang ia beri nama Hotel Expedition, fasilitas yang direncanakan mencakup spa dengan terapis pijat internal, yoga pagi, kelas membuat gelang, malam film di tepi kolam, serta s’mores kits untuk dinikmati di sekitar fire pit.
Tujuannya jelas: tamu merasa seperti menginap di resor kelas atas, tapi tanpa harga yang setinggi resor mewah. Clark mengatakan ia ingin menawarkan amenitas untuk tamu yang mencari lebih dari sekadar tempat tidur dan shower hangat.
Harga kamar yang ia bidik juga berlapis. Pada hari kerja, tarif malam diperkirakan mulai dari sekitar US$110. Saat akhir pekan dengan acara khusus, tarifnya bisa mencapai US$380, tergantung musim.
Untuk memahami tamu yang menjadi sasaran, Clark bahkan bepergian ke berbagai kota di Amerika Serikat, dan sesekali ke luar negeri, demi mempelajari hotel-hotel dengan audiens serupa. Pendekatannya terdengar sederhana, tapi justru di situ letak pentingnya: ia tidak sekadar membangun hotel, melainkan membaca selera pasar lebih dulu.
Dampaknya ke industri dan pembaca jelas terasa. Model seperti ini menunjukkan bahwa hotel lama tidak selalu harus dibongkar. Dengan renovasi yang tepat, properti lawas bisa dihidupkan lagi dan diposisikan sebagai pengalaman, bukan sekadar tempat singgah.
Buat pasar wisata, pendekatan semacam ini bisa menggeser cara orang memilih akomodasi: bukan cuma mencari ranjang dan lokasi, tapi juga suasana, aktivitas, dan cerita di balik bangunannya.
Clark juga mendokumentasikan seluruh proses di TikTok. Awalnya, ia hanya ingin punya rekaman perjalanan pembangunan. Tapi video-videonya justru viral dan meraih jutaan penayangan serta ratusan komentar. “I had no idea millions of people would want to follow the journey,” katanya. “The response has been very overwhelming and very mind-blowing.”
Ia berharap penonton melihat bahwa dirinya bukan korporasi besar atau anak konglomerat. “I hope followers can take away that I’m just an average dude; I’m not a corporation, a team of board members, or some rich trust fund kid,” ujarnya. Bagi Clark, kalimat yang terus ia pegang sederhana saja: “If they can do it, I can do it.”
Di atas kertas, Hotel Expedition masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Tapi satu hal sudah jelas: Clark tidak sekadar membeli bangunan tua di Arkansas. Ia sedang mengubahnya menjadi proyek ambisius yang ingin membuktikan bahwa hotel lama masih bisa punya umur panjang, asal dibaca dengan cara yang tepat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.