KUALA LUMPUR — PBB 2.0 baru menjadi sorotan dalam pidato Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Penang Peace Dialogue, Penang, Malaysia, Minggu. Jokowi menilai tata kelola global lama sudah tak cukup menghadapi konflik yang saling terkait dan melintasi batas negara.
Seruan itu ia kaitkan dengan kebutuhan akan lembaga internasional yang lebih kuat, mediasi yang lebih kuat, dan diplomasi yang lebih kuat. Bagi Jokowi, arah baru itu penting agar dunia tetap punya ruang untuk menjaga perdamaian di tengah situasi yang makin rumit.
PBB 2.0 baru dan tuntutan zaman
Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan dunia kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Konflik yang muncul tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dan membawa dampak ke banyak negara sekaligus. Itu sebabnya, menurut dia, Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu berubah, menata ulang sistem, proses, dan strategi agar bisa bekerja lebih relevan.
Jokowi bahkan menyebut dunia perlu bergerak melampaui Perserikatan Bangsa-Bangsa edisi lama dan membangun edisi baru, PBB 2.0 baru. Menurut dia, pembaruan itu bukan sekadar soal nama, tetapi soal kemampuan lembaga global untuk merespons krisis dengan lebih cepat dan lebih efektif.
“Kita membutuhkan lembaga global yang lebih kuat, mediasi global yang lebih kuat, dan diplomasi global yang lebih kuat untuk menjaga perdamaian. Sekarang, kita harus bergerak melampaui Perserikatan Bangsa-Bangsa edisi lama dan membangun edisi baru, Perserikatan Bangsa-Bangsa 2.0 yang baru,” kata Jokowi.
Asia Tenggara disebut contoh kerja sama
Jokowi juga menyoroti Asia Tenggara sebagai kawasan yang menurut dia memberi contoh bagaimana peradaban yang berbeda bisa hidup berdampingan, saling belajar, dan tumbuh bersama. Dalam pandangannya, kawasan ini bukan cuma beragam, tapi juga menunjukkan bahwa perbedaan bisa dijadikan jembatan, bukan tembok.
Dia menilai Asia Tenggara telah menjadi model penting kolaborasi antarperadaban dalam dunia multipolar. Dari situ, Jokowi mendorong agar nilai yang sama juga dipakai negara-negara maju saat membaca perubahan dunia.
“Di sini (Asia Tenggara), perbedaan bukanlah penghalang. Perbedaan adalah jembatan menuju pemahaman, kerja sama, dan kemajuan bersama,” ujarnya.
Soal daya tahan dunia, bukan sekadar politik
Bagian penting lain dari pidato Jokowi menyentuh soal cara negara-negara besar mengukur kebesarannya. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, dan pengaruh politik saja tidak cukup bila tidak dibarengi tanggung jawab, kebijaksanaan, dan kemampuan menciptakan perdamaian.
Di titik ini, pesan Jokowi menyentuh kepentingan yang lebih luas dari diplomasi formal. Bagi negara-negara yang terlibat dalam perdagangan, rantai pasok, dan stabilitas kawasan, konflik yang meluas berarti gangguan yang langsung terasa. Pasar bisa goyah. Jalur kerja sama bisa tersendat. Dan ketika kepercayaan menipis, ruang untuk tumbuh ikut menyempit.
Jokowi menutup dengan penekanan bahwa tidak ada negara yang bisa berhasil sendirian, tidak ada bangsa yang makmur dalam konflik, dan tidak ada perdamaian tanpa kepercayaan.
Pernyataan itu menempatkan PBB 2.0 baru sebagai gagasan yang belum selesai, tapi sudah ia dorong ke panggung publik Asia Tenggara. Berikutnya, perhatian akan tertuju pada bagaimana gagasan itu dibaca para peserta dialog dan sejauh mana resonansinya masuk ke forum-forum internasional lain.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.