Pasca-berakhirnya fase tersebut, aktivitas vulkanik Anak Krakatau menunjukkan karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan. Kendati demikian, tingkat probabilitas terjadinya letusan susulan pada periode berikutnya dinilai masih tinggi.
Sebaran Abu dan Dampak Regional
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dua klaster sebaran abu vulkanik teridentifikasi melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. BMKG mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi dan dampaknya pada penerbangan, transportasi, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Dampak sebaran abu vulkanik perlu menjadi perhatian serius karena partikel dapat mempengaruhi kesehatan saluran pernapasan masyarakat.
Di level daerah, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Iwan Suryawan mengusulkan pemberlakuan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara di wilayah terdampak, terutama untuk sektor non-esensial.
Ia juga meminta perlindungan tambahan bagi petugas layanan publik yang tetap bekerja di lapangan, termasuk penyediaan alat pelindung diri yang memadai.
Kenneth menekankan bahwa koordinasi lintas instansi sangat diperlukan. “Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, pemerintah wilayah, hingga aparat di lapangan harus memiliki langkah yang jelas sesuai perkembangan kondisi,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi tentang erupsi yang belum terverifikasi, karena risiko menimbulkan kepanikan dan mengganggu penanganan di lapangan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.