Senin, 7 September 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Apa Arti Nyatanya bagi Warga?

Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Apa Arti Nyatanya bagi Warga?
Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Apa Arti Nyatanya bagi Warga?. (Ilustrasi: AI)

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini datang setelah kuartal I-2026 juga mencatat pertumbuhan 5,6 persen. Buat warga, pertanyaannya sederhana: apakah rumah tangga benar-benar ikut merasakan napas yang lebih lega?

Di acara Lampung Financial Festival, Minggu (6/9/2026), Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, memberi jawaban langsung. Ia menilai pertumbuhan ekonomi mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga. Ukurannya dekat sekali dengan hidup sehari-hari. Masih bisa beli makanan besok, itu tanda ekonomi belum lesu.

Daya beli jadi cermin paling dekat

Herman menggambarkan ekonomi yang tumbuh sebagai ekonomi yang bergerak, bukan diam. Ia bahkan menyebut pertumbuhan sebagai tanda ekonomi yang “baik”. Dalam penjelasannya, transaksi kecil seperti membeli makanan menjadi cermin paling mudah untuk membaca kondisi kantong masyarakat. Sederhana, tapi terasa.

Logikanya begini: jika aktivitas belanja harian tetap jalan, uang berputar di masyarakat. Dari warung, pasar, sampai toko kelontong. Saat putaran itu bertahan, ekonomi ikut terdorong. Warga mungkin tidak langsung melihat angka 5,29 persen di layar BPS, tetapi mereka merasakannya dari hal paling dasar: ada belanja, ada transaksi, ada pergerakan.

Kenaikan ekonomi dibaca sebagai tambahan uang masyarakat

Herman juga mengaitkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen dengan pertambahan uang yang dimiliki masyarakat. Ia menyampaikan, secara sederhana, pertumbuhan seperti itu sejalan dengan bertambahnya kapasitas uang di tangan publik. Bukan berarti semua orang otomatis lebih kaya dalam jumlah yang sama. Tapi arah umumnya, menurut dia, mengarah ke kondisi yang lebih baik.

Pernyataan itu penting karena memberi terjemahan yang lebih dekat dengan kehidupan warga. Angka pertumbuhan sering terasa jauh, penuh tabel dan statistik. Di lapangan, ukurannya justru kembali ke dapur rumah, isi dompet, dan kemampuan membeli kebutuhan harian tanpa harus menahan terlalu banyak. Di situ letak dampaknya.

Angka makro, rasa di rumah tangga

Pertumbuhan 5,29 persen memang menunjukkan ekonomi masih bergerak positif, tetapi warga akan menilai hasilnya dari seberapa stabil pengeluaran mereka. Jika harga kebutuhan terjaga dan transaksi tetap ramai, rasa optimisme biasanya ikut naik. Kalau tidak, angka tinggi pun bisa terasa dingin.

Karena itu, perhatian berikutnya akan tertuju pada bagaimana pertumbuhan ini diterjemahkan ke lapangan. Apakah daya beli tetap kuat, apakah aktivitas transaksi harian terus terjaga, dan apakah uang masyarakat benar-benar berputar lebih lancar dalam beberapa bulan ke depan. BPS sudah memberi angkanya. Kini publik menunggu efek nyatanya di meja makan dan kantong belanja.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda