Selain dokumen, kemarahan Putri juga diwujudkan lewat kiriman karangan bunga yang terpampang nyata di depan kantor. Ucapan yang tersemat pada karangan bunga itu sarat dengan sindiran tajam.
Tentu saja, pesan-pesan tersebut menjadi bahan gunjingan panas bagi warga yang melintas di sekitar gedung Bank Sulteng. Aksi ini secara langsung menyeret citra profesional tempat kerja yang bersangkutan ke dalam pusaran drama rumah tangga yang privat.
Kehadiran sekitar 20 anggota kepolisian di sebuah institusi perbankan tentu menyisakan tanda tanya besar bagi masyarakat luas. Bagaimana mungkin perkara personal bisa melibatkan pengawalan aparat sebanyak itu di jam operasional kantor?
Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi baik dari pihak Bank Sulteng maupun pimpinan kepolisian setempat terkait keterlibatan personel dalam insiden tersebut.
Apakah pengawalan itu merupakan bagian dari perlindungan pribadi atau ada prosedur lain yang mendasari, masih menjadi misteri.
Kini, publik hanya bisa menunggu kejelasan dari pihak-pihak yang terlibat. Apakah ini akan berakhir di meja hijau dengan pembuktian hukum yang sah, atau sekadar drama yang akan menguap setelah sorotan netizen berpindah ke isu lain?
Fokus kini tertuju pada sikap manajemen Bank Sulteng apakah akan mengambil tindakan disiplin terhadap pegawainya atau memilih menutup diri dari hiruk-pikuk yang sudah terlanjur terekam dalam video amatir tersebar luas itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.