VENEZIA — Werner Herzog kembali menarik perhatian dunia film lewat Bucking Fastard, drama terbarunya yang tayang perdana di Festival Film Venesia. Di usia 84 tahun, sineas Jerman itu masih datang dengan kisah tentang mimpi, kegilaan, dan dorongan manusia untuk melakukan yang tampak mustahil.
Bagi Herzog, film ini terasa seperti perpanjangan dari dunia yang sudah lama ia bangun sendiri.
Dilaporkan DW, Bucking Fastard menjadi film drama pertamanya dalam tujuh tahun dan membawa penonton ke cerita dua saudari yang bergerak, berpikir, dan bermimpi seirama, lalu berangkat ke pedalaman Irlandia untuk menggali terowongan menuju Orkney Islands, tempat yang mereka bayangkan sebagai ruang bagi cinta sejati.
Werner Herzog dan obsesi pada mimpi yang mustahil
Judul Bucking Fastard juga lahir dari kebiasaan Herzog menengok lagi karya lamanya. Saat mencari judul memoar, ia kembali ke judul asli filmnya tahun 1974, Every Man for Himself and God Against All, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Enigma of Kaspar Hauser. Buat Herzog, itu bukan sekadar nama. Itu pandangan hidup.
Selama lebih dari 60 tahun, Herzog dikenal sebagai pembuat film yang gemar melampaui batas. Ia merekam film di lereng gunung berapi aktif, di tengah Sahara, di hutan, sampai kawasan utara Lingkar Arktik. Cerita-ceritanya sering mengikuti tokoh yang hidup di pinggir kemampuan manusia. Dan dalam prosesnya, sang pembuat film kerap mendorong dirinya sendiri dan kru ke titik paling ekstrem.
Herzog sendiri mengaitkan Bucking Fastard dengan Fitzcarraldo, film epiknya pada 1982 tentang impian membangun rumah opera di tengah hutan hujan. Ia mengingat bagaimana kru benar-benar menyeret kapal uap berbobot 320 ton melewati bukit di hutan Peru demi menghidupkan cerita itu. Kepada DW di Venesia, Herzog menyebut film barunya sebagai “the dream of an ideal country, which doesn’t really exist.”
Kate dan Rooney Mara main sebagai saudari kembar
Di Bucking Fastard, peran Jean dan Joan Holbrooke dimainkan Kate Mara dan Rooney Mara. Keduanya adalah saudari kandung di dunia nyata, dan Herzog memanfaatkan kedekatan itu untuk membangun sinkronisasi yang terasa aneh sekaligus meyakinkan di layar. Dalam film ini, dua saudari itu jatuh cinta pada pria yang sama, yang dimainkan Orlando Bloom.
Ceritanya longgar terinspirasi dari saudari kembar Freda dan Greta Chaplin, yang sempat menjadi perhatian tabloit di Inggris pada 1980-an. Judul filmnya juga merujuk pada kesalahan ucap spontan yang mereka buat di pengadilan saat menjelaskan mantan kekasih mereka.
Dari sana, Herzog mengolahnya jadi dongeng ganjil tentang cinta, obsesi, dan keyakinan pada hal-hal yang tak masuk akal bagi orang kebanyakan.
Rooney Mara ikut menegaskan nada itu. Menurutnya, kesediaan datang setiap hari dan menggali terowongan demi cinta bukanlah kegilaan. Justru, katanya, orang lainlah yang aneh kalau tak mau melakukannya. Pandangan itu cocok dengan dunia Herzog, yang sejak lama memang memberi ruang bagi karakter-karakter yang tidak tunduk pada logika normal.
Antara film fiksi dan dokumenter, garisnya tipis
Herzog juga kembali menunjukkan kebiasaannya mengaburkan batas antara fiksi dan dokumenter. Ia sudah lama dikenal lewat film nonfiksi seperti Grizzly Man, Little Dieter Needs to Fly, dan La Soufriere, yang sama-sama mengangkat sosok manusia ekstrem.
Dalam Grizzly Man, ia merenungkan hidup Timothy Treadwell yang akhirnya tewas dimangsa beruang. Dalam Little Dieter Needs to Fly, ia mengikuti Dieter Dengler, pilot berdarah Jerman-Amerika yang bertahan dari kamp tahanan di Laos.
Dalam La Soufriere, ia merekam kota kosong di Guadeloupe di dekat gunung berapi yang hampir meletus.
Herzog bahkan mengakui bahwa ia kadang menciptakan adegan untuk dokumenter dan merekam kejadian nyata untuk film fitur. Bagi dia, film tidak terlalu berkaitan dengan kenyataan mentah, melainkan dengan mimpi kolektif. Ia menyebut dirinya lebih sebagai penyair ketimbang sutradara.
Prinsip itu terasa lagi saat ia membuat Rescue Dawn pada 2006. Untuk film adaptasi kisah Dieter Dengler itu, Christian Bale diminta memakan belatung hidup di depan kamera dan bergulat dengan ular sungguhan. Herzog bahkan menunjukkan caranya, sambil ikut menelan belatung itu sendiri. Cara kerja seperti ini membuat film-filmnya terus berada di wilayah yang sulit ditebak.
Respons Venesia, kritik, dan audiens muda
Di Venesia, Bucking Fastard disambut hangat oleh penonton, tetapi para kritikus terbelah. Sebagian memuji keanehan khas Herzog yang terasa tetap segar. Sebagian lain menyebut film itu membingungkan, kaku, dan sama sekali tak masuk akal. Ada juga yang menyindirnya sebagai dongeng yang campur aduk. Pro dan kontra seperti ini bukan hal baru bagi Herzog.
Yang menarik, Herzog justru tampak makin dekat dengan generasi baru. Tahun lalu ia membuka akun Instagram, meski masih belum memiliki smartphone. Menurutnya, akun itu disukai besar-besaran oleh Gen Z. Ia mengatakan kepada DW bahwa 85% pembacanya berusia antara 15 dan 20 tahun. Ia juga melihat film-filmnya lebih mudah ditemukan karena sudah tersedia di internet dan platform streaming.
Itu penting bagi posisi Herzog sekarang. Di saat banyak sutradara mapan kehilangan jarak dengan penonton muda, Herzog justru menemukan jalur baru lewat medium yang dulu mungkin tampak jauh dari citranya sebagai pembuat film liar. Nama besarnya tidak hanya hidup di bioskop dan festival. Ia juga bergerak di layar kecil, tempat penonton muda menemukan kembali katalog lamanya.
Kate Mara merangkum daya tarik itu dengan tajam. Ia menyebut Herzog sebagai “a singular human being [who] really doesn’t give a sh**.” Kalimat itu, kasar tapi jujur, terdengar pas untuk sosok yang sejak awal kariernya lebih tertarik mengejar visi sendiri ketimbang menyesuaikan diri dengan selera aman. Dan di Venesia, Herzog tampaknya masih memilih jalan yang sama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.