JAKARTA — Letusan gunung api bukanlah solusi untuk mengatasi pemanasan global, termasuk letusan terbaru Gunung Anak Krakatau. Ketua Kelompok Riset Iklim dan Biosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Darmawan menegaskan, pemahaman tersebut adalah kesalahan besar yang perlu diluruskan.
“Pemahaman bahwa letusan gunung api dapat menjadi solusi atas pemanasan global merupakan pemahaman yang keliru,” kata Arief kepada Katadata, pada Selasa (8/9).
Meski letusan besar mampu sementara menutupi sebagian efek pemanasan global yang disebabkan gas rumah kaca, dampak tersebut sangat terbatas dan sementara. “Tetapi aerosol sulfat pada akhirnya akan turun dari atmosfer,” jelasnya. Sementara itu, gas rumah kaca dari aktivitas manusia terus menumpuk dan berkontribusi pada pemanasan planet.
Anak Krakatau: Dampak Terbatas pada Iklim
Arief menjelaskan, erupsi Gunung Anak Krakatau belum tentu mampu mendinginkan suhu bumi secara signifikan. Efek pendinginan hanya bisa terjadi jika gas sulfur dioksida (SO2) dari gunung api dalam jumlah besar mencapai stratosfer—lapisan kedua atmosfer yang berada pada ketinggian 16-50 kilometer di Indonesia.
Ketika SO2 sampai ke stratosfer, gas tersebut akan bereaksi dengan uap air dan membentuk aerosol sulfat yang dapat memantulkan sebagian radiasi matahari kembali ke angkasa. Dengan demikian, energi yang mencapai permukaan bumi berkurang. Namun, ada masalah: kolom abu yang mencapai ketinggian tinggi tidak menjamin SO2 dalam jumlah besar benar-benar masuk ke stratosfer.
Pada letusan Gunung Anak Krakatau September ini, sejumlah sumber melaporkan sebaran abunya diperkirakan mencapai 40.000-50.000 kaki, atau sekitar 13-14 kilometer—hanya menjangkau troposfer atas. Jarak itu masih jauh dari stratosfer.
“Untuk menentukan potensi dampak iklimnya, diperlukan pengukuran, terutama massa SO2 yang dilepaskan dan jumlah yang masuk ke stratosfer,” ujar Arief.
Faktor-Faktor Pendinginan Global dari Letusan
Efek pendinginan dari letusan tidak hanya bergantung pada jumlah SO2 yang masuk stratosfer. Lokasi gunung, musim, ukuran aerosol, dan pola sirkulasi atmosfer juga memainkan peran krusial. Kombinasi faktor-faktor itulah yang menentukan apakah sebuah letusan benar-benar berdampak pada pendinginan global.
Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 menjadi contoh nyata. Letusannya menyemburkan sekitar 17-20 juta ton SO2 ke stratosfer dan menimbulkan dampak iklim global yang signifikan. Aerosol menyebar cepat dan mempengaruhi temperatur permukaan selama beberapa tahun. Efek pendinginannya tidak langsung terasa—ada jeda sekitar 3-4 minggu setelah letusan terjadi.
Skala letusan Anak Krakatau saat ini jauh lebih kecil dibanding Pinatubo. Oleh karena itu, potensi dampak iklim globalnya sangat minimal, bahkan mungkin tidak terdeteksi.
Ancaman Nyata: Kualitas Udara Menurun
Daripada fokus pada dampak iklim yang belum pasti, Arief mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman yang sudah nyata di depan mata: penurunan kualitas udara akibat abu dan gas vulkanik. Abu dan SO2 yang tersisa di troposfer (ketinggian sekitar 6 kilometer) dapat langsung merusak kualitas udara di sekitar area letusan.
“Abu dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, mengurangi jarak pandang, mencemari air dan permukaan, serta sangat berbahaya bagi penerbangan,” kata Arief.
Untuk melindungi diri, Arief mengimbau masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk membatasi kegiatan di luar ruangan, khususnya ketika abu terlihat pekat. Penggunaan masker yang mampu mengurangi masuknya partikel juga sangat dianjurkan.
Langkah-langkah sederhana lainnya yang bisa dilakukan: melindungi mata, menutup sumber air dan makanan, serta membersihkan endapan abu secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan dan mencemari udara kembali.
Dengan demikian, fokus utama harus pada mitigasi dampak kesehatan dan lingkungan lokal, bukan berharap letusan gunung api menjadi solusi pemanasan global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.