Kamis, 10 September 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Pengacara Minta Trump Grasi Lindsay Clancy usai Sidang Buntu

Grasi Lindsay Clancy dibahas setelah sidang buntu
Pengacara Lindsay Clancy meminta Donald Trump mempertimbangkan grasi setelah sidang berakhir buntu. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — grasi Lindsay Clancy menjadi permintaan terbaru dari tim pembelanya setelah persidangan kasus pembunuhan tiga anaknya berakhir buntu. Pengacara Kevin Reddington pada Selasa meminta Presiden Donald Trump mempertimbangkan grasi untuk Clancy, mantan perawat berusia 36 tahun yang didakwa membunuh Cora, 5, Dawson, 3, dan Callan yang baru berusia 8 bulan pada 2023.

Permintaan itu muncul setelah juri terbelah 11-to-1 soal apakah Clancy secara kriminal bertanggung jawab atas kematian tiga anaknya. Kasus ini langsung memantik perhatian luas karena bersinggungan dengan isu kesehatan mental, tanggung jawab pidana, dan batas kewenangan presiden Amerika Serikat.

Reddington bicara pertama kali setelah mistrial

Reddington menyampaikan pandangannya untuk pertama kali pada Selasa dalam wawancara dengan George Stephanopoulos di Good Morning America. Di hadapan Trump, ia berkata, “Mr. President, I would hope that you would consider this young lady — the type of person she is, what she’s been through — and consider a pardon,” kata Reddington.

Ia menambahkan bahwa dirinya berharap Trump bersedia mengeluarkan grasi karena ia merasa “compelled to speak out about the case.” Bagi tim pembela, langkah itu menjadi cara untuk mendorong penyelesaian yang lebih luas setelah proses panjang di pengadilan.

Trump sendiri sempat menanggapi kasus ini saat menjawab pertanyaan wartawan pekan lalu. “Look, she did a horrible, horrible thing. Can’t be worse. But you’ll find out what the price to pay is. There’ll be a price. It’s going to be [a] mental institution or jail or something,” ujarnya.

Kewenangan Trump tidak berlaku untuk kasus ini

Masalahnya, permintaan itu mentok di hukum. Trump tidak bisa memberi grasi kepada Clancy karena ia menghadapi dakwaan pembunuhan di tingkat negara bagian Massachusetts, bukan kasus federal. Kewenangan grasi presiden hanya berlaku untuk kejahatan federal.

Artinya, bahkan jika Trump ingin turun tangan, jalur itu tidak tersedia. Ini jadi titik penting dalam perkara yang sudah menyita perhatian publik sejak awal karena menyangkut perdebatan besar soal kondisi mental terdakwa dan tanggung jawab hukum atas kematian tiga anak.

Reddington juga mengatakan ia berharap ada peluang bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan setelah menyimak seluruh bukti di persidangan. Ia menyebut hasil 11-1 itu seolah lebih dekat ke putusan tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa.

Clancy sendiri tidak membantah bahwa ia mencekik ketiga anaknya hingga tewas di ruang bawah tanah rumahnya di Massachusetts sebelum mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, pengacaranya berargumen bahwa psikosis pascapersalinan mendorong tindakan itu dan membuatnya lumpuh serta duduk di kursi roda. Jaksa menilai Clancy tahu apa yang ia lakukan ketika membunuh ketiga anaknya.

Perselisihan soal juri dan tanggung jawab medis

Reddington juga menarik ucapannya saat sebelumnya mengatakan kasus ini “crushed” jaksa Tim Cruz. Ia mengakui emosinya tinggi seusai persidangan yang panjang dan menyebut pernyataan itu sebagai bravado. Namun, ia tidak menyesal telah bicara keras soal arah perkara ini.

Terkait satu juri yang bertahan, Reddington mengatakan dirinya tidak marah pada orang itu. Yang membuatnya kesal adalah catatan ke pengadilan bahwa juri tersebut “had doubt but he would not apply reasonable doubt as presented by the judge.”

“That’s not right, and that’s why I was upset,” kata sang pengacara. Ia juga menegaskan bahwa ia akan membela hak juri tersebut untuk bertahan pada pendapatnya. “I would defend that individual’s right to be a holdout forever; that’s part of our judicial system. I respect that and I would certainly defend his right to do that,” ujarnya.

Di titik lain, Reddington justru menyalahkan tim medis dan sistem yang menurutnya gagal membantu Clancy. Ia menyebut pertemuan Clancy dengan psikiaternya sebagai “the worst thing she could have done,” karena sang dokter disebut hanya berpraktik sebulan tetapi mengaku ahli depresi pascapersalinan.

Reddington menambahkan bahwa Clancy sempat menulis kepada keluarganya bahwa dirinya menderita sangat parah dan dua kali menghubungi layanan hotline bunuh diri. “This girl’s life was ruined,” katanya. Perkara ini kini menunggu langkah berikutnya, termasuk kemungkinan retrial, setelah sidang pertama resmi berakhir tanpa putusan final.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda