Langit Ketapang membara. Asap sisa kebakaran hutan dan lahan mengepung pemukiman, sementara tanah retak-retak karena sudah dua bulan lebih tidak disiram hujan. Puncak kemarau yang menghantam 15 dari 20 kecamatan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, bukan sekadar soal suhu panas ekstrem, melainkan ancaman nyata krisis air bersih bagi ribuan warga.
Melihat kondisi yang makin gawat, jajaran DPD Partai Perindo Kabupaten Ketapang memutuskan tidak tinggal diam. Mereka langsung tancap gas menggelar program “Perindo Berbagi Air Bersih” selama dua hari berturut-turut untuk menyisir warga yang paling terdampak. Truk tangki air menjadi pemandangan yang dinanti masyarakat di titik-titik krusial.
Titik Distribusi dan Jangkauan Wilayah
Aksi tanggap darurat ini menyasar kawasan yang paling teriak minta tolong. Penyaluran air bersih difokuskan pada Desa Sukabangun Dalam dan Kelurahan Sampit yang berada di Kecamatan Delta Pawan.
Tidak berhenti di sana, tim lapangan juga mengarahkan armada mereka ke Desa Negeri Baru, Kecamatan Benua Kayong. Beberapa titik lain di pusat kota Ketapang pun tak luput dari sasaran penyaluran agar kebutuhan warga yang paling mendesak bisa segera terpenuhi.
Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten Ketapang, Amantus Sumarno, turun langsung mengawal distribusi air tersebut pada Jumat (11/9/2026). Ia mengaku miris melihat kondisi lapangan yang serba terbatas. Warga harus berjibaku dengan udara beracun akibat karhutla, ditambah beban berat mencari air untuk sekadar minum dan mandi setiap hari.
“Kondisi alam di Ketapang saat ini sangat memprihatinkan. Warga harus menghadapi cuaca panas dan asap karhutla, ditambah lagi krisis air. Kami sadar belum bisa menjangkau seluruh pelosok Ketapang. Namun setidaknya, kami hadir meredam krisis di kawasan pusat kota dan sekitarnya,” ujar Amantus di sela-sela kegiatan distribusi.
Dampak 63 Hari Tanpa Hujan
Situasi di Ketapang bukanlah masalah sepele. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat menunjukkan fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Wilayah tersebut telah mencatatkan hari tanpa hujan (HTH) selama 63 hari berturut-turut.
Durasi kekeringan sepanjang ini tergolong ekstrem bagi masyarakat setempat yang selama ini sangat bergantung pada sumber air alami seperti sumur gali atau tadah hujan.
Dampaknya berantai. Ketika air bersih jadi barang mewah, kesehatan warga menjadi taruhan. Risiko penyakit kulit hingga gangguan pencernaan mengintai di tengah keterbatasan sarana sanitasi. Fenomena ini pun bukan monopoli Ketapang saja, melainkan tren umum di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat yang sedang mengarungi puncak kemarau sepanjang September 2026.
Komitmen di Tengah Krisis
Amantus menegaskan bahwa aksi dua hari ini hanyalah permulaan. Partai Perindo berjanji bakal terus bergerak selama hujan belum mengguyur bumi Ketapang. Mereka tidak ingin sekadar memberikan bantuan simbolis, melainkan memastikan pasokan air sampai ke tangan warga yang benar-benar membutuhkan.
“Selama hujan belum turun dan air bersih belum tersedia dengan layak, kami akan terus bergerak. Ini bukan sekadar membagi air, melainkan bukti keberadaan Perindo yang peka terhadap penderitaan rakyat,” ucapnya tegas. Baginya, kehadiran partai di tengah bencana adalah ujian loyalitas sesungguhnya terhadap konstituen di tingkat akar rumput.
Kehadiran armada bantuan air dari Perindo di tengah teriknya siang hari ini menjadi oase kecil di tengah derita panjang warga Ketapang. Langkah partai ini sekaligus menjadi sinyal bahwa dalam situasi darurat alam, aksi nyata di lapangan jauh lebih berarti daripada sekadar retorika.
Kini, mata warga masih tertuju ke langit, menanti mendung yang tak kunjung datang sambil mengandalkan bantuan air yang datang dari pintu ke pintu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.