Sabtu, 12 September 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Hipertensi Bisa Tingkatkan Risiko Jantung hingga Stroke

Hipertensi Bisa Tingkatkan Risiko Jantung hingga Stroke
Hipertensi Bisa Tingkatkan Risiko Jantung hingga Stroke

JAKARTA — Hipertensi kembali jadi alarm kesehatan serius di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensinya pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah.

Angka hipertensi berdasarkan diagnosis dokter jauh lebih kecil, yakni 8,6 persen. Kesenjangan lebih dari 20 persen ini menunjukkan masih banyak warga yang belum tahu dirinya hidup dengan tekanan darah tinggi.

Hipertensi sering diam, tapi dampaknya besar

Masalahnya, hipertensi tidak selalu memberi tanda. Banyak orang merasa baik-baik saja, padahal tekanan darahnya sudah tinggi dan perlahan memberi beban pada pembuluh darah serta organ vital.

Karena itu, hipertensi kerap disebut sebagai faktor risiko yang sulit diabaikan. Dari luar tampak biasa. Di dalam tubuh, kerusakan bisa berjalan pelan.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa hipertensi bukan hanya soal angka tekanan darah yang naik. Ia juga berkaitan erat dengan kondisi kardiovaskular lain, termasuk atrial fibrillation atau AFib.

AFib adalah gangguan irama jantung yang membuat detak jantung tidak teratur. Saat ini terjadi, aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan risiko bekuan darah ikut meningkat.

“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib.

Pada kondisi AFib, detak jantung yang tidak teratur dapat menyebabkan aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, dapat terjadi stroke.

Karena itu, pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular dan mengurangi risiko komplikasi,” ujarnya di Jakarta, Jumat 11 September 2026.

Kenapa ini penting untuk banyak orang

Ini bukan isu kecil. Saat tekanan darah tinggi tidak terdeteksi, seseorang bisa baru sadar setelah muncul komplikasi yang jauh lebih berat. Stroke dan penyakit jantung sering datang setelah proses panjang yang sebenarnya bisa dipantau lebih awal.

Data SKI 2023 memberi gambaran mengapa skrining tekanan darah perlu terus digencarkan. Dengan prevalensi pengukuran mencapai 30,8 persen, tapi diagnosis dokter baru 8,6 persen, ada jarak besar antara kondisi nyata di tubuh dan pengetahuan masyarakat soal kesehatannya sendiri.

Artinya, pemeriksaan rutin punya nilai praktis. Bukan hanya untuk orang yang sudah merasa punya keluhan, tetapi juga bagi mereka yang tampak sehat. Tekanan darah bisa tinggi tanpa rasa pusing, tanpa pegal, tanpa tanda yang jelas.

Studi Framingham ikut menguatkan sinyal risiko

Hubungan antara hipertensi, AFib, dan stroke juga terlihat dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Penelitian terhadap 5.070 peserta itu menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat.

Pada saat yang sama, AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat. Temuan ini menegaskan bahwa tekanan darah tinggi bukan hanya angka di alat ukur, melainkan pintu masuk ke risiko yang lebih luas.

Bagi layanan kesehatan, temuan seperti ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan pemantauan rutin. Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: tekanan darah tidak boleh dibiarkan tanpa kontrol, apalagi jika sudah berulang kali tinggi.

Dampaknya terasa langsung di rumah dan di layanan kesehatan

Soalnya, hipertensi yang tidak terpantau bisa memengaruhi banyak hal sekaligus. Di keluarga, risiko biaya perawatan meningkat ketika komplikasi muncul mendadak. Di layanan kesehatan, beban penanganan penyakit jantung dan stroke ikut membesar karena banyak kasus sebetulnya berawal dari tekanan darah yang tak terkendali.

Kondisi ini juga membuat edukasi jadi penting. Pemeriksaan tekanan darah, pemahaman soal irama jantung, dan kebiasaan menjaga kesehatan kardiovaskular seharusnya tidak menunggu gejala datang. Justru di fase tanpa keluhan itulah pencegahan punya nilai paling besar.

Iwet Ramadhan, yang pernah mengalami stroke pada 2023, juga membagikan pengalaman pribadinya. Ia menyebut stroke yang dialaminya berkaitan dengan gaya hidup masa lalu, termasuk kebiasaan tidur larut malam karena pekerjaan, bahkan saat masa COVID-19 ketika ia pernah rapat hingga tengah malam.

Pengalaman itu membuatnya tak mau lagi tidur larut. Pesan yang tersisa sederhana, tapi keras: kebiasaan kecil yang dibiarkan bertahun-tahun bisa ikut menentukan risiko kesehatan di kemudian hari.

“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah,” kata Dr. Decsa Medika Hertanto.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 12 September 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir