CA MAU — Ngo Huynh Trang meninggalkan jabatannya sebagai kepala administrasi dan sumber daya manusia di sebuah perusahaan besar di Ho Chi Minh City pada 2012. Kini, tiga tahun kemudian, dia mengelola ekowisata Ca Mau yang menghasilkan pendapatan sekitar Rp 5,7 miliar per tahun dari lahan hutan keluarga seluas lebih dari enam hektare.
Pokok Peristiwa
Keputusan Trang untuk pulang ke Ca Mau—provinsi paling selatan Vietnam—dipicu oleh hasrat sederhana: ingin memiliki anak dan membesarkannya di lingkungan yang lebih tenang bersama keluarga. Setelah lulus studi administrasi bisnis tahun 2007, dia menghabiskan lima tahun di perkotaan sebelum memilih jalan berbeda.
Perjalanan menuju Ca Mau Eco tidaklah mulus. Trang pertama kali mencoba beternak buaya menggunakan dana pribadi dan pinjaman bank. Dia bahkan berkeliling luar negeri untuk mempelajari teknik berkembangbiak. Namun bisnis itu hancur—stok induk mengalami masalah, harga buaya jatuh, dan di satu titik seluruh hewan mati dengan kerugian sekitar Rp 570 juta.
Dari kegagalan itu, Trang belajar mencari bisnis yang memanfaatkan potensi lokal. Dia mulai memikirkan enam hektare tanah keluarganya, yang ditumbuhi hutan melaleuca dan perairan terbuka, bersebelahan dengan Taman Nasional U Minh Ha—bagian dari Cagar Biosfer Dunia Mui Ca Mau yang diakui UNESCO pada 2009.
Rencananya awalnya hanya menyewakan lahan. Suatu hari ketika menunjukkan plot kepada calon penyewa, dia bertemu seseorang dengan ide serupa: menjalankan pariwisata. Mereka berdua memutuskan bermitra. Modal Trang dan pinjaman bank mencapai lebih dari Rp 150 miliar untuk proyek ini.
Tanpa pengalaman pariwisata, Trang belajar sambil membangun. Dia menangani sendiri desain setiap komponen—dari perahu sampan tradisional hingga rumah beratap rumbia. Dia bahkan mengikuti kursus memasak untuk melayani tamu. Tidak ingin menggunakan firma desain profesional yang mahal, Trang memilih membangun sedikit demi sedikit agar konsep tetap miliknya.
Konteks
Saat proyek baru 80 persen selesai, mitra Trang menarik modalnya. Sebagian besar investasi sudah tertanam dalam tanah. Dia terpaksa menggunakan dana keluarga untuk melanjutkan. Enam bulan kemudian, Ca Mau Eco dibuka untuk pengunjung sambil tetap dibangun di sekitarnya.
Filosofi Trang tentang harga masuk sederhana: gratis. Tidak ada biaya parkir, tidak ada kewajiban membeli makanan. “Saya ingin menciptakan situs wisata yang bisa dikunjungi keluarga tanpa banyak uang pada akhir pekan,” ujarnya.
Pengalaman di Ca Mau Eco dirancang menghubungkan pengunjung dengan kehidupan lokal. Ada pemanenan madu liar, memeriksa jebakan ikan, mencari makan, dan berjalan di hutan melaleuca sambil mengenakan áo bà ba—blus tradisional selatan. Pengunjung juga mendengarkan pertunjukan musik dan cerita-cerita lucu Bac Ba Phi, petani legendaris U Minh yang kisahnya menjadi cerita rakyat.
Trang kemudian membangun “desa hutan” sepanjang 200 meter yang merekonstruksi kehidupan di era perang. Rumah-rumah panggung bersekat dan instalasi lainnya terinspirasi dari Desa Vo Doi di dalam taman nasional—jaringan permukiman yang dibangun tahun 1958–1960. Rumah-rumah itu berfungsi sebagai tempat tinggal, gudang, klinik, sekolah, dan depot senjata dan makanan.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Untuk akurasi historis, Trang duduk bersama para veteran revolusioner, berkonsultasi dengan spesialis, dan berbicara dengan orang-orang yang pernah tinggal di Vo Doi. Pemerintah Vietnam meresmikan situs Vo Doi sebagai situs sejarah nasional pada 20 Juni 2018. Trang ingin versinya sama dekatnya dengan rekam historis sehingga pengunjung muda bisa membayangkan cara hidup masyarakat saat itu.
Tiga tahun beroperasi, Ca Mau Eco menarik beberapa ribu pengunjung per bulan—dua hingga tiga kali lipat saat musim liburan. Dengan margin keuntungan sekitar 30 persen, pendapatan tahunan Trang mencapai sekitar Rp 5,7 miliar.
Trang tidak puas dengan status quo. Rencana berikutnya adalah membangun pasar desa yang dijalankan warga lokal, menjual ikan kolam, sayuran liar, dan apapun yang mereka tanam atau kumpulkan.
Ini akan mengalirkan uang ke kantong tetangga sambil memberi pengunjung kesempatan bertemu kehidupan Ca Mau secara langsung. Dalam pandangannya, kunci pariwisata bukan menghindari kegagalan tapi tahu apa yang diinginkan setelah setiap gagal.
“Siapapun di pariwisata harus membaca pasar, batas diri sendiri, dan apa yang benar-benar diinginkan pengunjung, lalu menyegarkan produk tanpa mengejar setiap tren,” katanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.