Filosofi Trang tentang harga masuk sederhana: gratis. Tidak ada biaya parkir, tidak ada kewajiban membeli makanan. “Saya ingin menciptakan situs wisata yang bisa dikunjungi keluarga tanpa banyak uang pada akhir pekan,” ujarnya.
Pengalaman di Ca Mau Eco dirancang menghubungkan pengunjung dengan kehidupan lokal. Ada pemanenan madu liar, memeriksa jebakan ikan, mencari makan, dan berjalan di hutan melaleuca sambil mengenakan áo bà ba—blus tradisional selatan. Pengunjung juga mendengarkan pertunjukan musik dan cerita-cerita lucu Bac Ba Phi, petani legendaris U Minh yang kisahnya menjadi cerita rakyat.
Trang kemudian membangun “desa hutan” sepanjang 200 meter yang merekonstruksi kehidupan di era perang. Rumah-rumah panggung bersekat dan instalasi lainnya terinspirasi dari Desa Vo Doi di dalam taman nasional—jaringan permukiman yang dibangun tahun 1958–1960. Rumah-rumah itu berfungsi sebagai tempat tinggal, gudang, klinik, sekolah, dan depot senjata dan makanan.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Untuk akurasi historis, Trang duduk bersama para veteran revolusioner, berkonsultasi dengan spesialis, dan berbicara dengan orang-orang yang pernah tinggal di Vo Doi. Pemerintah Vietnam meresmikan situs Vo Doi sebagai situs sejarah nasional pada 20 Juni 2018. Trang ingin versinya sama dekatnya dengan rekam historis sehingga pengunjung muda bisa membayangkan cara hidup masyarakat saat itu.
Tiga tahun beroperasi, Ca Mau Eco menarik beberapa ribu pengunjung per bulan—dua hingga tiga kali lipat saat musim liburan. Dengan margin keuntungan sekitar 30 persen, pendapatan tahunan Trang mencapai sekitar Rp 5,7 miliar.
Trang tidak puas dengan status quo. Rencana berikutnya adalah membangun pasar desa yang dijalankan warga lokal, menjual ikan kolam, sayuran liar, dan apapun yang mereka tanam atau kumpulkan.
Ini akan mengalirkan uang ke kantong tetangga sambil memberi pengunjung kesempatan bertemu kehidupan Ca Mau secara langsung. Dalam pandangannya, kunci pariwisata bukan menghindari kegagalan tapi tahu apa yang diinginkan setelah setiap gagal.
“Siapapun di pariwisata harus membaca pasar, batas diri sendiri, dan apa yang benar-benar diinginkan pengunjung, lalu menyegarkan produk tanpa mengejar setiap tren,” katanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.