Selasa, 15 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

PLN UIP Sulawesi Perkuat Kapasitas Warga Kaluku Bodoa Hadapi Kekeringan dan Kebakaran

Warga Kaluku Bodoa Makassar melakukan kerja bakti dan edukasi hemat air dalam Program Desa Siaga Bencana PLN UIP Sulawesi
Warga Kelurahan Kaluku Bodoa mengikuti Program Desa Siaga Bencana 2026 yang diselenggarakan PLN UIP Sulawesi untuk meningkatkan kesadaran tentang penggunaan air bijak dan pencegahan kebakaran. (Ilustrasi: AI)

Warga RT 05/RW 02 Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kini punya barikade baru menghadapi ancaman musim kering dan amukan api. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi turun langsung ke lapangan untuk meluncurkan Program Desa Siaga Bencana 2026.

Fokusnya jelas: memitigasi risiko kekeringan dan kebakaran yang kerap mengintai kawasan permukiman padat penduduk tersebut.

Langkah nyata ini bukan sekadar seremoni. PLN UIP Sulawesi menyisir kebutuhan warga melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Mereka membekali masyarakat dengan dua senjata utama, yaitu edukasi penggunaan air yang bijak serta teknik pencegahan dini kebakaran lingkungan.

Pendekatan ini dipilih karena karakteristik wilayah Tallo yang sangat rentan terhadap kedua masalah tersebut saat kemarau tiba.

Sinergi di Level Akar Rumput

Suasana kerja bakti mewarnai peluncuran program ini di Makassar, Senin (20/5). Warga bahu-membahu membersihkan selokan dan merapikan lingkungan permukiman bersama staf PLN.

Tak sendirian, aksi ini juga melibatkan perangkat pemerintah kelurahan, pengurus RT/RW, hingga Kelompok Kaltana (Kelompok Tanggap Bencana) setempat. Mereka terjun langsung untuk memastikan setiap sudut permukiman memenuhi standar aman dari risiko musibah.

Senior Manager Perizinan, Pertanahan, dan Komunikasi PLN UIP Sulawesi, Henry Donald Mangatas Silaen, menegaskan bahwa kehadiran PLN adalah bentuk tanggung jawab perusahaan menjaga ketahanan sosial. Menurutnya, kesadaran kolektif jauh lebih efektif daripada sekadar pemadaman saat api sudah menjalar. Dia ingin warga di Kaluku Bodoa memiliki “insting” preventif yang kuat dalam keseharian mereka.

“Kami mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap penggunaan air dan pencegahan kebakaran. Program ini menjadi wadah agar mereka mandiri saat menghadapi kondisi darurat,” ujar Henry di sela-sela kegiatan. Ia menambahkan, infrastruktur paling tangguh adalah masyarakat yang teredukasi dengan baik.

Ketua Kelompok Kaltana Kaluku Bodoa, Hanah, tidak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, bantuan yang diberikan PLN bukan soal materi, melainkan pembiasaan pola pikir baru. Warga diajak disiplin mengelola stok air bersih di rumah masing-masing agar tidak boros. Apalagi, ancaman kekeringan di Makassar sering kali membuat suplai air ke wilayah padat penduduk tersendat drastis.

“Program ini membawa manfaat langsung. Kami diajak membangun kebiasaan sederhana yang dampaknya besar untuk mengurangi risiko bencana. Sekarang warga lebih paham apa yang harus dilakukan jika ada percikan api atau saat air mulai sulit didapat,” ungkap Hanah dengan semangat.

Prioritas pada Kawasan Padat

Kawasan Kaluku Bodoa dipilih bukan tanpa alasan. Kepadatan bangunan yang tinggi membuat akses mobil pemadam kebakaran atau bantuan darurat sering kali terhambat jika terjadi musibah. Karena itu, langkah mitigasi dari dalam—yakni dari warga sendiri—menjadi benteng pertahanan paling depan.

Edukasi hemat air pun dianggap sangat krusial agar cadangan yang ada bisa bertahan lebih lama saat kemarau panjang memuncak.

Pihak PLN UIP Sulawesi berkomitmen untuk tidak berhenti di titik ini saja. Mereka menjanjikan program TJSL yang berkelanjutan untuk mendampingi warga. Ke depan, penguatan kapasitas kelompok Kaltana akan terus dipantau agar kesiapsiagaan warga tidak hanya bersifat musiman.

Kolaborasi antarpihak, mulai dari pemerintah kota hingga masyarakat sipil, akan menjadi kunci utama dalam menjaga keberhasilan program ini di masa depan.

PLN kini tengah mematangkan rencana untuk mereplikasi pola pendampingan serupa ke titik-titik lain yang memiliki kerentanan serupa di wilayah Sulawesi. Bagi warga Kaluku Bodoa, pekerjaan rumah berikutnya adalah menjaga konsistensi dari apa yang sudah dimulai. Mereka sadar, kesiapan menghadapi bencana bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama setiap penghuni yang tinggal di sana.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 15 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online