Suara deru mesin ekskavator memecah keheningan di Padukuhan Gebluk, Kalurahan Kenteng, Ponjong, Selasa (15/9). Alat berat itu dikerahkan untuk membongkar tumpukan sampah dan sedimentasi tanah yang menyumbat luweng, lubang pembuangan air alami yang selama ini menjadi biang kerok banjir di kawasan karst Gunungkidul.
Warga di sana sudah terlalu lama akrab dengan genangan air. Setiap kali hujan deras mengguyur, lubang luweng yang semestinya menjadi mulut penyerap air justru mampet total. Air yang tidak bisa masuk ke dalam tanah akhirnya meluap, membanjiri jalanan desa hingga mendekati teras rumah warga.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akhirnya turun tangan melakukan pengerukan skala besar untuk mengembalikan fungsi drainase alami tersebut.
Memulihkan Napas Bumi Karst
Kondisi geologi Gunungkidul yang khas membuat luweng memegang peranan krusial sebagai sistem drainase utama. Sayangnya, banyak dari lubang alami ini tersumbat material yang mengeras akibat pengendapan bertahun-tahun.
Tim teknis di lapangan memutuskan menggunakan alat berat karena pengerjaan manual sudah tidak memungkinkan lagi. Mengorek endapan padat dengan tenaga manusia saja bakal memakan waktu berbulan-bulan dan hasilnya belum tentu maksimal.
Proses pengerukan dilakukan dengan perhitungan yang sangat hati-hati. Meskipun menggunakan ekskavator, operator mesti menjaga agar struktur dinding batu di sekitar mulut luweng tetap stabil. Jika sembrono, risiko keruntuhan struktur bawah tanah justru mengintai.
Pihak pemkab ingin memastikan bahwa air bisa kembali masuk ke dalam aquifer dengan lancar, bukan sekadar membersihkan lubang di permukaan saja.
Seorang pejabat teknis di lokasi menuturkan, sistem luweng adalah jantung dari manajemen air di area karst. Saat luweng berfungsi optimal, air hujan tidak akan lagi menggenang di permukaan, melainkan langsung diserap bumi. Ini adalah cara alami Gunungkidul menabung cadangan air tanah untuk kebutuhan warga di musim kemarau mendatang.
Harapan Baru Warga Gebluk
Bagi warga Padukuhan Gebluk, kehadiran alat berat ini menjadi angin segar. Selama ini, setiap musim hujan berarti waktu siaga banjir. Perabotan rumah tangga seringkali harus diungsikan ke tempat lebih tinggi, dan aktivitas ekonomi warga pun praktis terhenti ketika air mulai meluap. Mereka mengaku lega karena keluhan soal luweng buntu akhirnya mendapat respons konkret dari pihak kabupaten.
Banjir di sini bukan sekadar gangguan kecil. Air yang meluap sering membawa lumpur dan sampah yang merusak pekarangan. Belum lagi ancaman kesehatan pasca-banjir yang kerap menghantui. Dengan pulihnya luweng, warga berharap tidak ada lagi ketakutan akan air bah setiap kali awan mendung menggelayut di atas Ponjong.
Program pengerukan ini bukan proyek insidental semata. Pemkab Gunungkidul memasukkan upaya restorasi luweng ke dalam skema pengelolaan air yang lebih berkelanjutan. Tujuannya jelas; meningkatkan retensi air tanah sekaligus meminimalisir bencana hidrometeorologi.
Air yang terserap ke dalam perut bumi akan mengalir ke sistem sungai bawah tanah yang nantinya bisa dimanfaatkan kembali oleh warga saat kemarau panjang melanda.
Pekerjaan pengerukan dijadwalkan rampung dalam beberapa hari ke depan. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh sumbatan di titik luweng utama di Gebluk terangkat bersih. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai setelah alat berat pergi.
Pemerintah berencana menetapkan jadwal pemantauan rutin untuk memastikan tidak ada lagi sampah atau material yang menutup saluran alami tersebut di masa depan.
Warga setempat juga diminta ikut menjaga kebersihan area sekitar luweng agar tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan yang berisiko menyumbat kembali. Pemerintah bakal segera melakukan evaluasi terhadap luweng-luweng lain yang kondisinya serupa di wilayah Gunungkidul untuk mencegah risiko banjir meluas di titik-titik rawan lainnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.