Kamis, 17 September 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Houthi Adalah Kelompok Ansarullah Yaman Penguasa Sanaa & Laut Merah: Arti, Pemimpin, Ideologi, Slogan

Houthi Adalah Kelompok Ansarullah Yaman
Houthi Adalah Kelompok Ansarullah Yaman Penguasa Sanaa & Laut Merah: Arti, Pemimpin, Ideologi, Slogan. Credit: Dok. JournalArta

SANAA, JOURNALARTA.COM – Kelompok Houthi atau Ansarullah Yaman kembali menjadi sorotan dunia setelah berhasil menguasai kota pelabuhan Mocha pada 10 September 2026 dan melancarkan serangan rudal serta drone ke pangkalan militer Arab Saudi antara 13-16 September 2026. Pergerakan agresif ini memicu pertanyaan tentang siapa sebenarnya Houthi, kelompok yang kini menguasai sebagian besar Yaman dan Laut Merah.

Houthi adalah gerakan politik dan militer Syiah Zaidiyyah yang dikenal dengan nama resmi Ansarullah (Pendukung Allah). Nama Houthi sendiri berasal dari marga pendirinya, Hussein al-Houthi, yang tewas pada tahun 2004. Gerakan ini didirikan pada tahun 1994 dan mulai bersenjata sejak tahun 2004, dengan markas utama di Sa’dah, Yaman. Bendera mereka mencantumkan slogan tegas: “Allah Mahabesar, Matilah Amerika, Matilah Israel, Terkutuklah Yahudi, Kemenangan untuk Islam.”

Pemimpin, Kekuatan, dan Ideologi Houthi

Saat ini, Houthi dipimpin oleh Abdul-Malik al-Houthi, yang mengambil alih kepemimpinan setelah kematian kakaknya pada 2004. Secara de facto, Mahdi al-Mashat menjabat sebagai Presiden Dewan Politik Tertinggi (SPC) yang dibentuk oleh Houthi. Kekuatan militer kelompok ini tidak bisa diremehkan, diperkirakan memiliki antara 120.000 hingga 150.000 anggota yang terdiri dari infantri, unit rudal dan drone, serta angkatan laut terbatas.

Ideologi Houthi berpusat pada kebangkitan Zaidiyyah, cabang Syiah Lima Imam yang berbeda dengan Syiah Dua Belas Imam di Iran, namun keduanya kini bersekutu. Selain itu, Houthi juga mengusung ideologi anti-imperialisme dan anti-Zionisme. Slogan resmi mereka, yang dikenal sebagai Sarkha, “Death to America, Death to Israel, Curse upon the Jews, Victory to Islam,” secara jelas menunjukkan orientasi politik mereka. Houthi mendapatkan dukungan dari Iran, Syria, dan Korea Utara, serta bersekutu dengan Hizbullah dan Kongres Nasional Umum. Mereka telah menguasai sebagian besar provinsi Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak tahun 2014.

Situasi Perang Yaman Terbaru: 3-16 September 2026

Konflik di Yaman kembali memanas sejak 3 September 2026. Pertempuran sengit ini menyebabkan setidaknya 194 orang tewas dan 880 lainnya luka-luka di Taiz, pesisir barat, al-Jawf, Marib, dan Dhalea, menurut data WHO yang dikutip Al Jazeera. Lebih dari 21.000 warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi ini.

Pada 10 September 2026, Houthi berhasil merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir barat Yaman, menyusul mundurnya Pasukan Perlawanan Nasional pimpinan Tareq Saleh. Kejatuhan Mocha ini merupakan kemenangan strategis bagi Houthi, yang kini juga menguasai Hays dan sebagian kawasan Al Khawkhah di Al-Hudaydah. Wilayah yang dikuasai Houthi ini berjarak sekitar 60 hingga 80 kilometer dari Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang dilalui sekitar 12% perdagangan global.

Tidak berhenti di situ, pada 13 September 2026, Houthi mengklaim telah melancarkan serangan drone dan rudal ke pangkalan militer Sharurah di wilayah selatan Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan target serangan adalah depot senjata dan pusat komando. Tiga hari kemudian, pada 16 September 2026, Arab Saudi membalas serangan Houthi yang menggunakan rudal balistik dan drone ke pangkalan udara King Khalid di Khamis Mushait. Serangan ini melukai 13 orang serta merusak tujuh rumah dan dua kendaraan. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk meminta serangan terhadap Houthi, namun permintaan tersebut ditolak.

Alasan Houthi Menyerang Israel dan Kapal Laut Merah

Houthi telah secara konsisten meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta kapal-kapal yang melintas di Laut Merah sejak November 2023. Tindakan ini merupakan balasan atas serangan Israel di Jalur Gaza yang, menurut klaim Houthi, telah menewaskan lebih dari 72.000 orang sejak Oktober 2023. Serangan-serangan ini ditujukan ke target yang terkait dengan Israel, Amerika Serikat, dan Inggris, sebagai bentuk dukungan terhadap warga Palestina di Gaza.

Houthi mengklaim menggunakan rudal hipersonik dengan jangkauan 2.000 km yang mampu mencapai target dalam 11 menit, meskipun Israel meragukan kemampuan hipersonik dan manuver rudal tersebut. Desain rudal Houthi sendiri disebut-sebut mirip dengan rudal balistik jarak menengah Iran, seperti Fateh-110 dan Kheibar Shekan. Tujuan utama dari serangan-serangan ini adalah untuk memblokade jalur perairan strategis di Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Arab, yang merupakan arteri vital bagi perdagangan global. Pemimpin Houthi menegaskan bahwa gerakan mereka “tidak netral” dalam konflik regional dan siap melakukan intervensi militer.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda