JAKARTA, JOURNALARTA.COM — Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah (IDR) kembali merosot tajam hari ini, Senin 21 September 2026. Data Morningstar Google Finance pukul 02:19 UTC menunjukkan 1 Dolar AS setara Rp17.779,00. Angka ini menandai pelemahan signifikan rupiah, dengan grafik satu bulan (1BLN) menunjukkan tren kenaikan tajam dolar.
Pergerakan ini diperkuat oleh data Bloomberg Spot Exchange pada pukul 09:05 WIB yang mencatat rupiah dibuka di level Rp17.791 per dolar AS, melemah 33 poin atau 0,19% dari penutupan Jumat 18 September di angka Rp17.758. Pelemahan ini menjadi perhatian serius di tengah sentimen global dan kebijakan bank sentral.
Kurs Dolar AS di Berbagai Bank dan Indikator Pasar
Data kurs jual beli dolar AS di berbagai bank besar hari ini, Senin 21 September 2026 pukul 09:06 WIB, menunjukkan variasi yang cukup mencolok:
| Bank | Jenis Kurs | Beli | Jual |
|---|---|---|---|
| BCA | e-rate | Rp17.765 | Rp17.785 |
| BCA | TT Counter | Rp17.620 | Rp17.900 |
| BCA | Bank Notes | Rp17.620 | Rp17.900 |
| Bank Mandiri | Special Rate | Rp17.715 | Rp17.745 |
| Bank Mandiri | TT Counter | Rp17.540 | Rp17.840 |
| Bank Mandiri | Bank Notes | Rp17.540 | Rp17.840 |
| Bank Indonesia (BI) | Kurs Jual | Rp17.791,51 | |
| Bank Indonesia (BI) | Kurs Beli | Rp17.614,49 |
Sementara itu, Bank Mega mencatat kurs tengah Rp17.755 dengan rentang beli Rp17.515 dan jual Rp17.995. Bank Panin menawarkan kurs tengah Rp16.550 (beli Rp16.520, jual Rp16.580), meskipun seringkali tidak menjadi pilihan utama bagi ritel.
Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) melemah tipis 0,02% ke level 100.20, setelah sebelumnya sempat stabil di 100.23 pasca kenaikan lebih dari 1% pekan lalu usai keputusan The Fed.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah hari ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pertama, kenaikan suku bunga oleh The Fed pekan lalu memperkuat dolar AS secara global. Kebijakan moneter yang lebih hawkish dari bank sentral AS cenderung menarik investor ke aset berbasis dolar.
Kedua, libur tiga hari di Jepang menyebabkan likuiditas pasar yang rendah. Kondisi ini membuat para trader lebih waspada terhadap potensi intervensi dari Tokyo, terutama karena yen Jepang sempat melemah tajam pekan lalu ke 156,64 per dolar AS. Ketiga, kenaikan harga minyak global menambah beban impor bagi Indonesia, yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah. Stagnasi Euro di level 1,1482 dolar AS juga tidak banyak membantu rupiah.
Dampak dan Rekomendasi
Pelemahan rupiah hingga menembus angka Rp17.779 memberikan dampak signifikan bagi berbagai pihak. Bagi importir, biaya impor akan melonjak, sehingga perlu cermat dalam memilih kurs terbaik; e-rate BCA di Rp17.765 mungkin menjadi pilihan termurah untuk transaksi transfer.
Untuk para traveler yang berencana ke Amerika Serikat, menukar uang sekarang sebelum rupiah tembus Rp18.000 menjadi rekomendasi. TT Counter Mandiri di Rp17.840 bisa jadi alternatif. Investor saham juga perlu mencermati kondisi ini; saham-saham berorientasi ekspor seperti CPO dan batu bara berpotensi diuntungkan, sementara saham impor seperti otomotif akan menghadapi tekanan.
Bagi pemilik tabungan dolar, ini bisa menjadi waktu yang baik untuk menjual jika membutuhkan rupiah. Namun, jika tujuannya adalah menyimpan aset dalam dolar, posisi hold masih cukup kuat mengingat tren dolar yang bullish, naik sekitar Rp200 dalam tiga minggu terakhir.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.