JAKARTA — Amanah dalam Islam mencakup janji, kepercayaan, dan hak orang lain; mengingkarinya termasuk perilaku yang diperingatkan Allah dan Rasulullah SAW. Bentuknya bisa dekat dengan keseharian: berkata tidak jujur, tidak menepati janji, atau menyalahgunakan kepercayaan.
Peringatan itu penting karena khianat tidak berhenti pada rusaknya hubungan antarmanusia. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyebut pengkhianatan sebagai salah satu tanda kemunafikan.
Amanah dalam Islam meliputi apa saja?
Amanah bukan hanya barang atau uang yang dititipkan. Mohammad Ridwan, dalam buku Wawasan Keislaman: Penguatan Diskursus Keislaman Kontemporer, menjelaskan khianat sebagai tindakan tidak menepati amanah. Istilah itu juga menggambarkan perbuatan mengambil hak orang lain.
Dalam praktiknya, ada tiga wujud yang mudah dikenali. Pertama, seseorang berdusta saat berbicara. Kedua, ia mengingkari janji. Ketiga, ia tidak menjaga sesuatu yang dipercayakan kepadanya.
Ketiganya dapat muncul dalam hubungan keluarga, pekerjaan, maupun urusan sosial. Janji yang sengaja diabaikan dan kepercayaan yang dipakai untuk kepentingan sendiri sama-sama menunjukkan seseorang tidak menjaga amanah. Begitu pula mengambil hak orang lain dengan cara tidak jujur.
Mengapa khianat dikaitkan dengan kemunafikan?
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah menyebut tiga tanda orang munafik: berdusta ketika berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat ketika dipercaya. Dalam hadis tersebut, menjaga kepercayaan menjadi bagian penting dari perilaku seorang Muslim.
Rasulullah SAW bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” Atribusi hadis itu menunjukkan bahwa pengkhianatan bukan sekadar persoalan sopan santun, tetapi perilaku yang mendapat peringatan tegas dalam ajaran Islam.
Al-Qur’an juga memuat larangan mengkhianati amanat. Dalam QS Al-Anfal ayat 27, Allah menyeru orang-orang beriman agar tidak mengkhianati Allah, Rasul, maupun amanat yang dipercayakan kepada mereka, padahal mereka mengetahuinya.
Pesan tersebut memberi ukuran yang jelas: seseorang tidak bisa menganggap pengkhianatan sebagai kesalahan kecil ketika ia sadar ada tanggung jawab yang harus dijaga. Amanah melekat pada tindakan sehari-hari, bukan hanya pada urusan besar yang terlihat oleh banyak orang.
Apa dampaknya bagi hubungan sehari-hari?
Dampak langsung khianat terasa pada orang yang kehilangan kepercayaan atau haknya. Ketika janji tidak ditepati, orang lain harus menanggung akibatnya; ketika titipan disalahgunakan, hubungan yang semula dibangun atas kepercayaan dapat rusak. Kerugian juga bisa muncul saat seseorang mengambil hak orang lain secara tidak jujur.
Karena itu, ajaran tentang amanah berhubungan langsung dengan kehidupan bersama. Menjaga ucapan dan janji membantu orang lain menentukan sikap berdasarkan informasi yang benar. Menjaga titipan dan hak orang lain pun mencegah hubungan sosial berubah menjadi ruang saling curiga.
QS Al-Anfal ayat 28 mengingatkan bahwa harta dan anak merupakan cobaan dalam kehidupan, sementara pahala besar berada di sisi Allah. Ayat itu menempatkan kepemilikan dan tanggung jawab dalam kerangka ujian, sehingga seseorang tidak semestinya mengorbankan amanah demi kepentingan sesaat.
Larangan dalam QS Al-Anfal ayat 27 dan peringatan dalam hadis sama-sama menuntut tanggung jawab yang nyata: tidak berdusta, menepati janji, dan menjaga kepercayaan. Tiga perilaku itulah yang disebut Rasulullah SAW ketika menjelaskan tanda kemunafikan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.