Kamis, 24 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Banjir, longsor dan galodo kenapa berulang?

Banjir dan longsor tanah di lereng bukit akibat deforestasi dan erosi tanah parah
Kerusakan lingkungan akibat deforestasi dan pembangunan tanpa pengendalian menjadi pemicu utama pengulangan banjir, longsor, dan galodo setiap musim hujan. (Ilustrasi: AI)

Anak-anak tidak sekolah, petani tidak dapat bertani, pengusaha rugi omset. Setiap bencana memakan waktu berbulan-bulan untuk pemulihan, namun kondisi lingkungan tidak diperbaiki secara fundamental—sehingga bencana berulang tahun depan dengan pola yang serupa.

Mengapa Penanganan Sering Tidak Tuntas

Penanganan bencana di Indonesia masih berfokus pada respons darurat, bukan pencegahan jangka panjang. Penghijauan lokal dilakukan, tapi pembukaan hutan ilegal terus terjadi. Pembangunan infrastruktur drainase ada, tapi kerusakan lingkungan yang lebih luas tidak ditangani. Akibatnya, potensi banjir longsor tetap tinggi.

Koordinasi antar daerah juga lemah. Sungai melintas beberapa kabupaten, namun pengelolaan hulu tidak terkoordinasi dengan pengelolaan hilir. Hasilnya, upaya mitigasi di satu tempat menjadi sia-sia karena dampak dari hulu tetap membanjiri.

Jalan Keluar: Dari Respons ke Pencegahan

Untuk memutus siklus ini, diperlukan perubahan paradigma—dari sekadar merespons bencana menjadi mengubah kondisi lingkungan. Penghijauan skala besar, terutama di area hulu dan lereng curam, harus menjadi prioritas anggaran nasional dan daerah. Tidak boleh setengah-setengah; itu berarti investasi berkelanjutan selama puluhan tahun.

Larangan tegas terhadap pembukaan lahan tanpa izin dan penertiban pertambangan liar harus diterapkan. Penggunaan lahan harus disesuaikan dengan daya dukung—tidak memaksa pertanian intensif di daerah rawan longsor, dan tidak memperkenan permukiman padat di zona banjir.

Edukasi masyarakat tentang perlindungan lingkungan perlu digalakkan sejak dini, bukan hanya saat bencana. Kesadaran bahwa lingkungan rusak berarti diri dan keluarga terancam adalah kunci mengubah perilaku konsumtif dan perusakan alam.

Banjir, longsor, dan galodo akan terus berulang selama masyarakat dan pemerintah belum menyadari bahwa pencegahan bencana dimulai dari perlakuan terhadap alam. Setiap pohon yang ditebang, setiap lereng yang dikupas, dan setiap sungai yang dialihkan adalah potensi bencana masa depan yang menunggu musim hujan untuk mewujud.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 24 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online